<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>koekoeh'sBlog &#187; Puisi</title>
	<atom:link href="http://koekoeh.wordpress.com/category/puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://koekoeh.wordpress.com</link>
	<description>Merayakan Kata Merajut Makna</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Jun 2009 09:53:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='koekoeh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/917c2d0593c61d0e81b9e81dcb44fe4b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>koekoeh'sBlog &#187; Puisi</title>
		<link>http://koekoeh.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://koekoeh.wordpress.com/osd.xml" title="koekoeh&#8217;sBlog" />
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Lawas</title>
		<link>http://koekoeh.wordpress.com/2008/04/03/kumpulan-puisi-lawas/</link>
		<comments>http://koekoeh.wordpress.com/2008/04/03/kumpulan-puisi-lawas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 10:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koekoeh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koekoeh.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah beberapa puisi yang berhasil terselamatkan karena tersimpan di www.lallement.com. Beberapa puisi yang ditulis sejak tahun 1995-2004 tidak berhasil dibuka karena harddisk komputer yang bermasalah.
Selamat menikmati.
RUANG
 
kita adalah ruang kosong itu dengan jendela setengah terbuka
membiarkan matahari mengusamkannya perlahan-perlahan
seperti biasa
bila musim kemarau tiba
debu-debu dari perut bumi yang bergelora
dengan leluasanya bercengkerama di atas tubuh kita
menari dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koekoeh.wordpress.com&blog=592289&post=7&subd=koekoeh&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ini adalah beberapa puisi yang berhasil terselamatkan karena tersimpan di www.lallement.com. Beberapa puisi yang ditulis sejak tahun 1995-2004 tidak berhasil dibuka karena harddisk komputer yang bermasalah.</p>
<p>Selamat menikmati.</p>
<p><strong>RUANG</strong></p>
<p><strong></strong><span> </span></p>
<p><span>kita adalah ruang kosong itu dengan jendela setengah terbuka<br />
membiarkan matahari mengusamkannya perlahan-perlahan<br />
seperti biasa<br />
bila musim kemarau tiba<br />
debu-debu dari perut bumi yang bergelora<br />
dengan leluasanya bercengkerama di atas tubuh kita<br />
menari dan berjingkrak mencari-cari bagian yang leluasa disinggahinya<br />
sekadar membuatnya tampak lembap dan tak bercahaya<br />
kita memang selalu lupa<br />
mengisinya dengan sebuah lemari, sebuah meja, dan sebuah lampu belajar<br />
yang barangkali mampu menjadi persinggahan sementara<br />
atau paling tidak lekas tahu dan buru-buru menutup jendela<br />
sebelum debu yang dibawa angin musim itu mencapai telinga dan mata kita<br />
kita memang ruang kosong itu<br />
yang senantiasa harus diisi dan dilengkapi<br />
agar mampu bertahan dari debu dan angin kemarau yang makin jahat<br />
di musim ini</span></p>
<p><em><span>depok, oktober 1997</span></em></p>
<p><strong>PAGI</strong></p>
<p><span>pagi adalah milik mawar yang terkantuk-kantuk<br />
membuka gaunnya mengejar panas matahari<br />
untaian kehidupan yang warna-warni harus segera disambutnya<br />
agar malamnya dia bisa leluasa merenungkan<br />
apakah esok keindahan masih tetap tegar di tempatnya<br />
pagi juga milik kumbang yang dengan sabar menanti mawar<br />
malam yang panjang dilewatinya dengan gelisah<br />
mengharap pagi tetap bersahabat dengannya<br />
tanpa hujan dan angin yang bergemuruh<br />
kumbang memang selalu setia menanti mawar<br />
menunggu pesona keanggunan di ujung-ujung kain merahnya<br />
seperti hidup yang terus bersambung<br />
pagi adalah kehidupan buat mawar dan kumbang</span></p>
<p><em><span>warung buncit, januari 1998</span></em></p>
<p><strong>LAMPU</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><span>duduk berlama-lama memandang kota pada malam hari selalu ada yang muncul begitu saja<br />
malam ini mungkin kau hanya menemukan cahaya berpendar lewat lampu-lampu jalan<br />
yang tegak berdiri menyambut pagi<br />
malam berikutnya, tanpa disengaja, bisa saja kau akan mendengar lampu-lampu yang sabar itu bercerita kepada setiap yang ditemuinya<br />
bagaimana seharusnya melewati tiap-tiap malam tanpa air mata</span></p>
<p><em><span>warung buncit, januari 1988</span></em></p>
<p><strong>CERITA DI MUSIM KEMARAU</strong></p>
<p><span>Biasanya kita akan sampai pada musim kemarau ketika langit berwarna jingga dan angin berjalan sendiri, tersaruk-saruk di atas kerudung tipismu yang warna-warni. Dalam suasana yang sedemikian sempurna, kita sering tiba-tiba menghadap ke langit dan mereka-reka bentuk awan. Sekejap, kita seperti anak kecil yang berebut memiliki gugusan putih itu: menghitungnya, lalu mengejanya perlahan-lahan. &#8220;Lihatlah di atas sana,&#8221; serumu tertahan. Burung-burung kecil kita yang riang dengan candanya memainkan warna awan. Dari putih ke abu-abu, lalu ke biru, ke jingga. Di musim seperti ini, langit adalah taman kanak-kanak bagi burung, dan kadang layang-layang. Sebuah ruang yang bersahaja. Tempat untuk bermain dan menyambut matahari. </span></p>
<p><em><span>mampang, 15 Juli 2000</span></em></p>
<p><strong>KARTU POS</strong></p>
<p><span>Ketika berlayar di sebuah telaga, kakekku dengan lantang berteriak, &#8220;Aku ingin membawamu ke samudra luas. Ke sebuah dunia yang tak pernah kau lihat sebelumnya, bahkan dalam impianmu. Aku akan jadi Sinbad Pelaut untukmu. Aku tak ingin kau hanya seorang Portir yang setiap hari hanya mendengar petualanganku.&#8221; Kayuh yang dipegangnya pun diangkat tinggi-tinggi, laksana pedang perkasa untuk membunuh ular raksasa. Kakek pun mengajakku menjelajahi dunianya, di antara riak air dan semak gulma. &#8220;Itulah Gunung Kera. Di dalamnya banyak makhluk paling kejam yang membuatmu tak bisa melihat dunia. Ayo, kita ke sana. Akan kutunjukkan bahwa aku bukan hanya pedagang kaya yang lolos dari maut dengan tidak sengaja. Akulah Sinbad Pelaut yang perkasa,&#8221; sambil tangannya menunjuk ke sebuah gundukan tanah yang berdiri tegak di atas air. Perahu berguncang. Telaga bergelombang. Air dan matahari menjadi satu: penuh warna-warni.<br />
Saat melihat kartu pos bergambar telaga, aku ingat kakekku yang kini sedang berlayar di antara riak nirwana.</span></p>
<p><em><span>mampang, 22 Juli 2000</span></em></p>
<p><strong>MALAM</strong></p>
<p><span>dan malam membekapku dengan iramanya yang paling sempurna<br />
lengking sedihnya membuatku buta<br />
hentakan-hentakan melodinya yang ganas<br />
adalah tanda bahwa cahaya yang datang pasti akan sia-sia merebutnya</span></p>
<p><em><span>depok, 1999</span></em></p>
<p><strong>ANGIN</strong></p>
<p><span>Aku adalah angin musim dingin yang menampar perahu di dermaga itu<br />
Jangan paksa aku ikut denganmu ke tengah laut yang sedang pasang<br />
Aku baru saja kembali dari sana, berjumpa si pusaran yang tak mau diam<br />
Aku hanya mau di sini, berjalan dengan tenang<br />
Menumbuk-numbuk tingkap dan menyibakkan helai-helai nyiur yang kaku<br />
Biarkan aku mengeja cuaca yang senantiasa berubah</span></p>
<p><em><span>Mampang, 31 Juli 2000</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p><em></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/koekoeh.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/koekoeh.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/koekoeh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/koekoeh.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/koekoeh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/koekoeh.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/koekoeh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/koekoeh.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/koekoeh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/koekoeh.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/koekoeh.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/koekoeh.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=koekoeh.wordpress.com&blog=592289&post=7&subd=koekoeh&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koekoeh.wordpress.com/2008/04/03/kumpulan-puisi-lawas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4899863a14f81904edc91b43825993d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">koekoeh</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>