Posted by: koekoeh | Juni 23, 2008

Gubernur

Gubernur


Darso masih duduk-duduk dengan tenang. Sore itu ia tidak ingin berbuat apa-apa. Ia hanya ingin duduk dan diam. Ia tidak mau diganggu. Pikirannya hanya tertuju pada telepon yang ada di depannya. Dari tadi siang ia berharap ada suara kring dan menyebut namanya. Ia merasa yakin akan ditelepon. Ia merasa pengabdiannya selama ini sudah cukup. Bahkan, ia merasa lebih banyak berbuat dibanding calon lawannya dalam pemilihan gubernur itu. Ia merasa jasa-jasanya sudah cukup besar untuk menjadi seorang gubernur.

Telepon itu masih di situ. Tapi tak ada bunyi kring. Tutupnya yang terbuat dari kain perca warna cokelat seakan menyiratkan kegundahan hatinya. Dari tadi pagi ia memperhatikannya. Sepertinya tidak ada yang salah. Kabelnya sudah terpasang. Ketika ia angkat, ada nada terdengar. Tapi, kenapa sampai saat ini tidak ada telepon untuknya.

Pemilihan gubernur itu memang tinggal tahap akhir. Dan biasanya, pada tahap akhir, calon yang menang akan ditelepon untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Sejak tiga hari lalu Darso sudah merasa dirinya menang. Pejabat-pejabat daerahnya rata-rata berpihak terhadap dirinya. Legowo yang menjabat gubernur sebelumnya dianggap tidak becus menangani pembangunan daerahnya. Selain tidak ada yang berubah di daerahnya, Legowo juga dianggap terlalu banyak menentang keinginan pejabat di situ yang secepatnya ingin melihat daerahnya maju. Legowo banyak menolak pembangunan gedung-gedung yang menurutnya menghabiskan lahan pertanian penduduk. Darso tersenyum-senyum memikirkan hal itu.

Impiannya menjadi gubernur memang sudah ada dalam genggamannya. Ia tidak hanya merasa didukung pejabat dan pembesar di daerahnya. Masyarakat di daerahnya pun telah mengajukan namanya dalam penjaringan dengan antusias. Dan, ia tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan itu.

“Kring… kring… kring!” Darso lompat dari tempat duduknya. Koran yang dibacanya ia lempar. Pikirannya tertuju pada telepon itu.

“Halo, di sini kediaman Darso. Ada keperluan apa?”

Suara di telepon menjawab, “Apakah ini rumahnya Dinda? Dindanya ada, Pak?”

“Dinda tidak ada. Ia sedang beli baju dan makanan,” jawab Darso dengan kesal.

“Terima kasih, Pak,” ujar suara di telepon sambil menutup telepon.

“Sial. Ditunggu dari tadi, yang ada malah buat Dinda,” umpat Darso sambil memungut koran yang dilemparnya.

Ia berpikir kembali. Ia merenung sambil tersenyum-senyum. Ia sudah berjanji tidak akan berbuat seperti yang dilakukan Legowo. Baginya, Legowo terlalu tolol. Padahal, posisi gubernur yang didapatkannya karena bantuan dari pejabat-pejabat itu.

“Sudah dapat tempat enak, kok tidak mau membantu,” pikirnya.

Ia tidak ingin mengulang kesalahan itu. Ia akan bekerja sama dengan orang-orang yang mendukungnya. Ia berpikir bahwa hal itu tidak ada ruginya. Hal itu pasti akan memantapkan posisinya untuk jabatan-jabatan di masa mendatang. Ia berencana membangun daerahnya melebihi daerah di sebelahnya. Pabrik, realestat, mal, gedung-gedung megah, semuanya akan didirikan, Ia berharap hal itu akan menjadi kenangan manis selama hidupnya. Gubernur Darso berhasil membangun daerahnya. Ia pun tersenyum.

Telepon belum juga berbunyi. Sore telah mendatanginya. Ia merasa pegal-pegal menunggu seharian. Ia mulai berpikir apakah dirinya telah dibohongi. Apakah mungkin Legowo akan menjabat lagi? Ia membuang pikiran itu jauh-jauh. Legowo bukan saingannya. Di samping itu, seperti yang ia dengar, Pak Menteri pun telah menyetujui dirinya jadi gubernur. Maklum, semua keputusan itu ada di tangan Pak Menteri.

Istri dan anaknya yang sejak siang berbelanja sudah pulang. Istrinya memang ia suruh menyiapkan segalanya untuk menyambut hari yang berbahagia itu. Ia tahu para wartawan pasti akan datang. Tetangga-tetangga juga akan menyalaminya. Belum lagi para pejabat dan bawahannya. Ia berencana untuk menyambut mereka semeriah-meriahnya. Ia tidak mau dibilang pelit. Istri dan anaknya juga ia suruh beli baju baru agar tampak cantik dan berwibawa. Ia seakan-akan mau berujar, “Ini baru keluarga gubernur.”

“Masih belum ada kabar, Pak?” tanya istrinya yang sejak tadi melihat Darso gelisah mulai bertanya.

“Tahu nih. Padahal saya harus menyiapkan segala sesuatunya. Sampai jam segini belum ada tanda-tandanya juga,” jawabnya dengan nada kesal.

Coba saja Pak telepon ke kantor. Mungkin orang kantor sudah tahu,” usul istrinya.

“Malas ah. Nanti saya dikira meminta-minta,” jawab Darso tegas.

Telepon itu masih tergeletak di pojok. Belum juga berbunyi. Sudah dua buah buku habis dibaca Darso. Ia sudah mulai kesal. Keinginan-keinginan yang ia bayangkan berubah jadi kekecewaan. Wajah Legowo terlintas di benaknya. Ia bayangkan lagi apa yang kini disiapkan Legowo menyambut pengumuman ini. Apa ia juga sudah membeli baju dan makanan seperti yang ia perintahkan kepada istrinya. Atau malah ia sekarang pergi ke luar kota agar tidak ada orang yang mengejarnya dan memberi perhatian. “Legowo, Legowo, kau tidak mungkin menang melawanku,” ujarnya dalam hati.

Sore menjadi larut. Malam sudah memanggil bulan. Angin pun sudah menyaruk-nyaruk pohon dan jendela. Telepon belum juga berbunyi. Anaknya yang ingin menelepon ia larang. Ia tidak ingin gagal jadi gubernur gara-gara teleponnya tidak bisa dihubungi karena sibuk. Ia merenung lagi. Ia berjanji dalam hati akan memberi sedekah kepada fakir miskin bila jadi gubernur. Ia akan menyumbang untuk pembangunan masjid, menjadi orang tua asuh, atau memberi lapangan pekerjaan pada pengangguran. Pokoknya, ia akan beramal.

Darso melihat sekali lagi pada telepon itu. Tidak ada keanehan. Telepon itu masih tetap di tempatnya. Ia mengecek kembali kabelnya. Mengecek kembali suara teleponnya. Ia harus yakin seyakin-yakinnya bahwa memang tidak ada yang salah pada teleponnya.

Ia membayangkan lagi wajah teman-temannya, koleganya, saudara-saudaranya, pejabat-pejabat, teman anaknya, masyarakat daerahnya yang tersenyum puas karena ia menjadi gubernur, jabatan tertinggi yang diincar banyak orang.

Ia sudah lelah sekali. Malam semakin larut. Ia akhirnya tertidur di depan telepon itu. Istrinya tidak mau membangunkannya. Istrinya berpikir, mungkin nanti malam atau dini hari telepon itu berbunyi. Dan suaminyalah yang pertama mengangkatnya.

Darso masih tertidur. Dalam tidur ia mendengar teleponnya berdering-dering. Ia pun melihat semua temannya sedang menunggu dirinya untuk sekadar memberi ucapan selamat. Podium kebesaran pun sudah disediakan bagi dirinya untuk memberi wejangan dan ucapan terima kasih. Istri dan anaknya pun sudah memakai baju yang baru dibeli kemarin. Mereka memang layak menjadi keluarga gubernur. Masyarakat yang ingin melihat wajah gubernur mereka yang baru sudah menanti di halaman gedung. Teriakan mereka seakan-akan membuat dirinya melambung jauh di atas awan. “Darso, Darso, Gubernur Darso, Gubernur Darso.” Ia melihat Legowo di ujung sana dengan muka yang tidak senang. Darso tersenyum karena ia berhasil mengalahkannya.

Darso seperti mendengar telepon. Dicoba didengarnya dengan saksama. Ia ingin memastikannya lebih jelas. Tiba-tiba suara telepon itu berubah. Darso seperti tercekik Ia sulit bernapas.

“Kring… kring… kring… kring.”

Di luar rumah, orang berkumpul memasang tenda.

Berita Buana, 16 Agustus 1998

Leave a response

Your response:

Kategori