Oleh: koekoeh | April 3, 2008

Kumpulan Puisi Lawas

Ini adalah beberapa puisi yang berhasil terselamatkan karena tersimpan di www.lallement.com. Beberapa puisi yang ditulis sejak tahun 1995-2004 tidak berhasil dibuka karena harddisk komputer yang bermasalah.

Selamat menikmati.

RUANG

kita adalah ruang kosong itu dengan jendela setengah terbuka
membiarkan matahari mengusamkannya perlahan-perlahan
seperti biasa
bila musim kemarau tiba
debu-debu dari perut bumi yang bergelora
dengan leluasanya bercengkerama di atas tubuh kita
menari dan berjingkrak mencari-cari bagian yang leluasa disinggahinya
sekadar membuatnya tampak lembap dan tak bercahaya
kita memang selalu lupa
mengisinya dengan sebuah lemari, sebuah meja, dan sebuah lampu belajar
yang barangkali mampu menjadi persinggahan sementara
atau paling tidak lekas tahu dan buru-buru menutup jendela
sebelum debu yang dibawa angin musim itu mencapai telinga dan mata kita
kita memang ruang kosong itu
yang senantiasa harus diisi dan dilengkapi
agar mampu bertahan dari debu dan angin kemarau yang makin jahat
di musim ini

depok, oktober 1997

PAGI

pagi adalah milik mawar yang terkantuk-kantuk
membuka gaunnya mengejar panas matahari
untaian kehidupan yang warna-warni harus segera disambutnya
agar malamnya dia bisa leluasa merenungkan
apakah esok keindahan masih tetap tegar di tempatnya
pagi juga milik kumbang yang dengan sabar menanti mawar
malam yang panjang dilewatinya dengan gelisah
mengharap pagi tetap bersahabat dengannya
tanpa hujan dan angin yang bergemuruh
kumbang memang selalu setia menanti mawar
menunggu pesona keanggunan di ujung-ujung kain merahnya
seperti hidup yang terus bersambung
pagi adalah kehidupan buat mawar dan kumbang

warung buncit, januari 1998

LAMPU

duduk berlama-lama memandang kota pada malam hari selalu ada yang muncul begitu saja
malam ini mungkin kau hanya menemukan cahaya berpendar lewat lampu-lampu jalan
yang tegak berdiri menyambut pagi
malam berikutnya, tanpa disengaja, bisa saja kau akan mendengar lampu-lampu yang sabar itu bercerita kepada setiap yang ditemuinya
bagaimana seharusnya melewati tiap-tiap malam tanpa air mata

warung buncit, januari 1988

CERITA DI MUSIM KEMARAU

Biasanya kita akan sampai pada musim kemarau ketika langit berwarna jingga dan angin berjalan sendiri, tersaruk-saruk di atas kerudung tipismu yang warna-warni. Dalam suasana yang sedemikian sempurna, kita sering tiba-tiba menghadap ke langit dan mereka-reka bentuk awan. Sekejap, kita seperti anak kecil yang berebut memiliki gugusan putih itu: menghitungnya, lalu mengejanya perlahan-lahan. “Lihatlah di atas sana,” serumu tertahan. Burung-burung kecil kita yang riang dengan candanya memainkan warna awan. Dari putih ke abu-abu, lalu ke biru, ke jingga. Di musim seperti ini, langit adalah taman kanak-kanak bagi burung, dan kadang layang-layang. Sebuah ruang yang bersahaja. Tempat untuk bermain dan menyambut matahari.

mampang, 15 Juli 2000

KARTU POS

Ketika berlayar di sebuah telaga, kakekku dengan lantang berteriak, “Aku ingin membawamu ke samudra luas. Ke sebuah dunia yang tak pernah kau lihat sebelumnya, bahkan dalam impianmu. Aku akan jadi Sinbad Pelaut untukmu. Aku tak ingin kau hanya seorang Portir yang setiap hari hanya mendengar petualanganku.” Kayuh yang dipegangnya pun diangkat tinggi-tinggi, laksana pedang perkasa untuk membunuh ular raksasa. Kakek pun mengajakku menjelajahi dunianya, di antara riak air dan semak gulma. “Itulah Gunung Kera. Di dalamnya banyak makhluk paling kejam yang membuatmu tak bisa melihat dunia. Ayo, kita ke sana. Akan kutunjukkan bahwa aku bukan hanya pedagang kaya yang lolos dari maut dengan tidak sengaja. Akulah Sinbad Pelaut yang perkasa,” sambil tangannya menunjuk ke sebuah gundukan tanah yang berdiri tegak di atas air. Perahu berguncang. Telaga bergelombang. Air dan matahari menjadi satu: penuh warna-warni.
Saat melihat kartu pos bergambar telaga, aku ingat kakekku yang kini sedang berlayar di antara riak nirwana.

mampang, 22 Juli 2000

MALAM

dan malam membekapku dengan iramanya yang paling sempurna
lengking sedihnya membuatku buta
hentakan-hentakan melodinya yang ganas
adalah tanda bahwa cahaya yang datang pasti akan sia-sia merebutnya

depok, 1999

ANGIN

Aku adalah angin musim dingin yang menampar perahu di dermaga itu
Jangan paksa aku ikut denganmu ke tengah laut yang sedang pasang
Aku baru saja kembali dari sana, berjumpa si pusaran yang tak mau diam
Aku hanya mau di sini, berjalan dengan tenang
Menumbuk-numbuk tingkap dan menyibakkan helai-helai nyiur yang kaku
Biarkan aku mengeja cuaca yang senantiasa berubah

Mampang, 31 Juli 2000


Tanggapan

  1. wah pusinya keren2 ^^!
    dulu kuliah di sastra ya om?
    Salut!

  2. makasih apresiasinya…
    iya, dulu kuliah di sastra UI..
    tapi suka nulis puisi sejak sebelum kuliah…

    salam


Beri tanggapan

Your response:

Kategori