Oleh: koekoeh | Maret 24, 2008

Melihat Papua dari Bahasa: Sebuah Pengantar

peta1. Pendahuluan

Bahasa memainkan peran penting bagi kehidupan kita. Barangkali karena lazimnya, jarang sekali kita memperhatikannya dan lebih menganggapnya sebagai hal biasa, seperti bernapas atau berajalan. Padahal, bahasa mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa, dan termasuk dari apa yang membedakan manusia dari binatang. Selain itu, bahasa merupakan bagian penting dari kebudayaan, sehingga bahasa tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Melalui bahasa manusia menyatakan pikiran, isi hati, permohonan, dan rasa ingin tahunya.

Seperti diketahui, daerah Papua memiliki jumlah bahasa dan suku bangsa terbanyak di Indonesia. Menurut perhitungan Grimes (1992) di Papua terdapat 248 bahasa daerah. Satu dari bahasa tersebut telah punah. Itu berarti 247 bahasa daerah masih tergolong bahasa yang hidup. Oleh karena itu, Papua mempunyai potensi yang besar sekali untuk memperkaya khasanah kebudayaan nasional. Sebaliknya bahasa daerah yang banyak jumlahnya ini merupakan penghalang komunikasi yang konkret bagi pemerintah, karena sebagian besar belum ditelaah demi kelancaran komunikasi.

Tanpa pengetahuan mendalam serta pengertian yang baik tentang kebudayaan, termasuk di dalamnya bahasa daerah suku-suku bangsa yang ada di Papua, akan sulit bagi para pelaksana pembangunan daerah dalam berbagai bidang untuk mengetahui bagaimana mempersiapkan orang-orang Indonesia asal Papua untuk menghadapi modernisasi yang merupakan bagian mutlak dari program pembangunan daerah maupun nasional yang telah, sedang, dan akan terus dilaksanakan. Apalagi, berdasarkan data Biro Pusat Statistik Papua pada tahun 2002 jumlah penduduk Papua adalah 2.233.530 jiwa. Dari jumlah itu, penduduk asli berjumlah 1.460.846 jiwa. Data itu juga menyebutkan bahwa penduduk miskin di Papua berjumlah 1.565.571 jiwa dengan pendapatan perkapita Rp 166.000 per bulan (Kompas 23 Februari 2003).

2. Klasifikasi Bahasa

Bahasa-bahasa di Papua diklasifikasikan dalam dua golongan besar, yaitu bahasa-bahasa Austronesia (AN) dan bahasa-bahasa non-Austronesia (NAN). Bahasa-bahasa AN atau sering disebut bahasa Melayu-Polinesia membentang dari Semenanjung Malaka melintasi Samudera Pasifik sampai ke Pulau Paskah. Ada empat cabangnya. Pertama, cabang bahasa Melayu (atau Indonesia) yang mencakup bahasa Melayu dan di dalamnya termasuk bahasa-bahasa pulau besar seperti Taiwan, Jawa, Sunda, Madura, Bali dan bahasa-bahasa di daerah Filipina, seperti Bisaya dan Tagalog. Ranting yang jauh adalah bahasa Malagasi, bahasa di Madagaskar. Kedua, Melanesia, yaitu cabang Melayu-Polinesia yang mencakup banyak bahasa kelompok-kelompok pulau kecil, seperti bahasa-bahasa Kepulauan Salomon dan Fiji. Ketiga, cabang Mikronesia yang terdiri atas bahasa-bahasa yang lebih kecil daerahnya, seperti di kepulauan-kepulauan Gilbert, Marshal, Karolina, dan Mariana, serta Pulau Yap. Keempat, cabang Polinesia yang meliputi Maori, bahasa asli Selandia Baru, dan bahasa-bahasa Pulau Pasifik yang letaknya ke timur, seperti Samoa, Tahiti, Hawaii, dan Pulau Paskah. Sementara itu, bahasa NAN pada umumnya tidak mempunyai hubungan genetik dengan bahasa-bahasa di luar Papua dan Papua New Guinea, kecuali dengan beberapa bahasa di daerah Timor, Alor, Pantar, dan Halmahera Utara.

Dari 248 bahasa daerah di Papua, 43 di antaranya atau 17,3% terdiri atas bahasa-bahasa AN. Semua bahasa AN ini terdapat di dekat pantai. Tidak satu pun yang terdapat di daerah pedalaman. Ahli-ahli bahasa dan sejarah menduga bahwa keadaan seperti ini merupakan akibat dari sejarah daerah. Orang-orang atau suku-suku bangsa yang berbahasa NAN merupakan penduduk asli Papua, sementara yang berbahasa AN berdatangan dalam berbagai gelombang dan menempati daerah-daerah sepanjang pantai, sehingga memaksa orang-orang yang berbahasa NAN pindah ke pedalaman (Grace 1976: 55-71).

Dalam sejarah penelitian bahasa di Papua, para ahli linguistik membagi klasifikasi bahasa di Papua dalam dua kategori: kategori geografi dan liguistik. Kategori geografi umumnya terdapat dalam penelitian awal (sekitar tahun 50-60-an). Para ahli membagi kurang lebih 8 golongan atau wilayah bahasa di Papua, yaitu:

  1. Bahasa yang tersebar di bagian timur daerah Jayapura
  2. Bahasa yang tersebar di bagian barat daerah Jayapura
  3. Bahasa yang tersebar di sepanjang pantai Teluk Cenderawasih dan pulau-pulau di sekitarnya
  4. Bahasa yang tersebar di daerah Kepala Burung dan Kepulauan Raja Ampat
  5. Bahasa yang tersebar di Semenanjung Fakfak
  6. Bahasa yang tersebar di Mimika dan bagian selatan Jayapura
  7. Bahasa yang tersebar di Pegunungan Jayawijaya
  8. Bahasa Indonesia Irian

Sementara itu, kategori linguistik yang berdasarkan asas-asas ilmu bahasa dimulai pada tahun 70-an. Dalam kategori ini bahasa-bahasa di Papua ditelaah dengan metode leksikostatistik. Bahasa-bahasa ini kemudian dibagi atas phylum (fila), stock (golongan), famili (keluarga), dan subfamily (subkeluarga).

Atas dasar pembagian fila, bahasa-bahasa NAN terdiri atas 10 fila, yaitu:

  1. Trans-New Guinea Phylum (Fila Trans-Irian)
  2. West Papuan Phylum (Fila Papua Barat)
  3. Sepik-Ramu Phylum (Fila Sepik-Ramu)
  4. Sko-Phylum Level Stock (Fila Sko Tingkat Golongan)
  5. Kwomtari Phylum Level Stock (Fila Kwomtari Tingkat Golongan)
  6. Geelvink Bay Phylum (Fila Teluk Cenderawasih)
  7. East Bird Head Phylum Level Stock (Fila Kepala Burung Bagian Timur Tingkat Golongan)
  8. Warenbori Phylum Level Isolate (Fila Warenbori Tingkat Isolat)
  9. Taurap Borumeso Phylum Level Isolate (Fila Taurap Tingkat Isolat)
  10. Pauwi Phylum Level Isolate (Fila Pauwi Tingkat Isolat)

3. Distribusi Bahasa

Telah disebutkan di atas bahwa bahasa-bahasa AN tidak terdapat di pedalaman, sedangkan bahasa-bahasa NAN terdapat di daerah pantai maupun pedalaman. Persebaran atau distribusi bahasa-bahasa AN di Papua terutama di daerah leher burung dan pulau-pulau di sekitarnya. Selain itu juga di daerah Waropen di sekitar Waren, Waropen Atas, daerah Yapen Timur dan Barat serta pulau-pulau di sekitarnya, daerah kepulauan Biak-Supiori, Pulau Numfor, daerah sekitar Manokwari, dan sebagian besar kepulauan Raja Ampat, sebagian daerah Fak-Fak dan Kaimana, serta kepulauan sekitar Kaimana. Di bagian Timur pantai utara di daerah sekitar Sarmi dan kepulauan lepas pantai Sarmi, daerah antara Demta dan Sarmi, serta sekitar Jayapura. Contoh bahasa AN antara lain bahasa Sobei dekat Sarmi, bahasa Ambai di Pulau Ambai sebelah selatan Pulau Yapen, bahasa Serui Laut di Yapen, bahasa Koiwai di daerah Kaimana, bahasa Biak, dan bahasa Wandamen.

Sementara itu, sebagian besar dari wilayah Papua ditempati oleh bahasa-bahasa NAN. Dari kesepuluh fila yang disebutkan di atas itu, fila terbesar jumlah sukunya adalah anggota Trans-New Guinea Phylum (fila Trans-Irian). Suku pada fila ini yang terbanyak jumlah anggotanya adalah Dani (184.000), sedangkan yang sedikit Usku (20 orang) yang berdekatan dengan Senggi. Suku bangsa lainya dalam fila ini antara lain Kamoro, Asmat, Wodani, Moni, Sentani, dan Nimboran.

4. Ciri-ciri Bahasa

Ciri-ciri bahasa AN umumnya mirip dengan bahasa Indonesia, terutama penggunaan pola SPO dan bentuk frase DM. Sementara itu, bahasa NAN cenderung berbeda. Di bawah ini sebagian ciri-ciri dari bahasa NAN

A. Kalimat

Yang dibicarakan dalam bagian ini adalah anak kalimat serta kalimat dan paragraf. Menurut peraturan bahasa yang umum berlaku di seluruh dunia ada kecenderungan bahwa bahasa-bahasa dengan struktur SOP mempunyai struktur frasa MD (menerangkan diterangkan), kata yang menerangkan terletak sebelum yang diterangkan.

Bahasa Nimboran:

Ngo ornaming dam

Saya ubi makan “saya makan ubi”

S O P

Ki namuan

Orang perempuan dua “dua orang perempuan”

D M

Waa saoo

Saya punya rumah “rumah saya”

Bahasa Kemtuik:

Genam pasar no klong

Saya pasar ke pergi “saya pergi ke pasar”

Bahasa Kamoro

Ewati ndoro kamoa nemari

Kemarin saya keladi makan “Kemarin saya makan keladi”

Ndoro ooa kaumari

Saya babi bunuh “Saya bunuh babi”

B. Cara Menghitung

Pada umumnya suku-suku di Papua mengenal tiga macam cara menghitung. Cara menghitung yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. sistem bahasa AN
  2. sistem kaki dan tangan
  3. sistem sebagian tubuh

Sistem pertama terdapat dalam bahasa Ambai, yaitu bahasa AN di Pulau Yapen. Di dalam bahasa tersebut terdapat kata-kata untuk 1-10. Kemudian angka 10 dipakai dasar untuk angka 11 dan seterusnya.

11 suraiya boyari sepuluh dan satu

12 suraiya boru sepuluh dan dua

20 piare dua puluh

21 piareya boyari dua puluh dan satu

30 piareya sura dua puluh dan sepuluh


Sistem kedua dipakai oleh suku Bauzi, Isirawa, dan Berik. Sebagai dasar menghitung adalah kaki dan tangan.

5 auohole tapak habis

6 au mei viva tapak jari lagi

7 au mei behasu viva tapak dua jari lagi

10 au ahim fole sepasang tapak habis

11 naba bu vametea viva kaki satu jari

15 naba meida ahebu fole kaki satu semua habis

au ahim fole, naba meida sepasang tapak habis, kaki lagi

fole, naba bu meida habis, kaki satu jari

vametea viva

20 naba ahim fole sepasang kaki habis

21 dat meida anekeha orang tangan lagi satu jari

Sistem ketiga dipergunakan oleh orang Ketengban dari pegunungan timur, keluarga bahasa Mek. Dalam sistem ini, setiap nomor dari 1-25 sama dengan nama sebagian tubuh, mulai dari tangan kiri, lewat kepala, sampai jari tangan kanan: 6 adalah pergelangan tangan, 7 lengan bawah, 8 siku, 9 lengan atas, 10 bahu, 11 leher, 12 telinga, 13 kepala, 14 telinga, dan seterusnya. Ada satu variasi lain yaitu mata dan hidung juga dipergunakan untuk 14, 15, dan 16 dan jari terakhir dari tangan kanan dianggap 28, bukan 25. untuk 25 ke atas, si pembicara mulai lagi dengan sebelah tubuhnya, dan ditambah dengan awalan kaip pada setiap nomor. Lebih dari 50 disebut banyak dan tidak dihitung.


Daftar Pustaka

Barr, Donald F. dan Sharon G., Index of Irian Jaya Language. Abepura: Proyek Uncen-SIL, 1978.

Bloomfield, Leonard., Bahasa. Diindonesiakan oleh I Sutikno. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1995.

Briley, J. “Some Counting System of Irian Jaya”. Dalam Irian, Bulletin for Irian Jaya Development, VI, 3 hlm. 28-32. 1978

Grimes, Barbara F. (ed), Ethnologue. Language of the World. Dallas: SIL Inc. 1992.

Grace, George., “History and Research in Australian Language of the New Guinea Area: General New Guinea Area Languages and Language Study”. Vol.2. Austronesian Languages, Pasific Lingusitics, Series C, 1976.


Tanggapan

  1. thanks atas tulisan anda. tulisan ini menambah referensi saya dalam menulis “Number and Counting in Patani Language”

  2. terima kasih kembali. senangnya jika tulisan di sini nantinya bisa bermanfaat. kuliah di mana?

  3. Somehow i missed the point. Probably lost in translation :) Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Pros!

  4. thanks

  5. he..he..
    kog tau tentang bahasa di papua, emang pernah datang ke papua ato sekarang tinggal di papua……

    kebetulan saya sedang meneliti bahasa-bahasa di papua, sharing yuk…..

  6. Saya memang pernah berada di Papua, tepatnya di Timika, pada tahun 2004 dan melakukan penelitian atas subsuku Kamoro sejak 2002 sampai 2004. Saat itu memang agak prihatin karena penelitian sosial tidak pernah membawa riset bahasa ke dalamnya. Ini sebenarnya salah satu bentuk awal untuk mencoba melengkapi riset tentang Papua, khususnya suku Kamoro, terutama dari segi bahasa. Karena kesibukan dan pindah kerja, riset ini belum berlanjut. Alangkah senangnya bila Anda mau berbagi mengenai hal ini.

    salam
    koekoeh

  7. saat ini balai bahasa papua telah mengambil data bahasa di papua sebanyak 207 bahasa, dan yang masih akan di ambil datanya tahun ini kurang lebih 90 bahasa, jadi kemungkinan ada 300-an bahasa yang ada di papua dan papua barat.

  8. blog yang dasyat…bos mungkin anda tau arti (makna kata dan makna lagu) yamko Rambe yamko?
    kalo tau…boleh dong saya dibagi..thx.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori