Posted by: koekoeh | Juni 23, 2008

Gubernur

Gubernur


Darso masih duduk-duduk dengan tenang. Sore itu ia tidak ingin berbuat apa-apa. Ia hanya ingin duduk dan diam. Ia tidak mau diganggu. Pikirannya hanya tertuju pada telepon yang ada di depannya. Dari tadi siang ia berharap ada suara kring dan menyebut namanya. Ia merasa yakin akan ditelepon. Ia merasa pengabdiannya selama ini sudah cukup. Bahkan, ia merasa lebih banyak berbuat dibanding calon lawannya dalam pemilihan gubernur itu. Ia merasa jasa-jasanya sudah cukup besar untuk menjadi seorang gubernur.

Telepon itu masih di situ. Tapi tak ada bunyi kring. Tutupnya yang terbuat dari kain perca warna cokelat seakan menyiratkan kegundahan hatinya. Dari tadi pagi ia memperhatikannya. Sepertinya tidak ada yang salah. Kabelnya sudah terpasang. Ketika ia angkat, ada nada terdengar. Tapi, kenapa sampai saat ini tidak ada telepon untuknya.

Pemilihan gubernur itu memang tinggal tahap akhir. Dan biasanya, pada tahap akhir, calon yang menang akan ditelepon untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Sejak tiga hari lalu Darso sudah merasa dirinya menang. Pejabat-pejabat daerahnya rata-rata berpihak terhadap dirinya. Legowo yang menjabat gubernur sebelumnya dianggap tidak becus menangani pembangunan daerahnya. Selain tidak ada yang berubah di daerahnya, Legowo juga dianggap terlalu banyak menentang keinginan pejabat di situ yang secepatnya ingin melihat daerahnya maju. Legowo banyak menolak pembangunan gedung-gedung yang menurutnya menghabiskan lahan pertanian penduduk. Darso tersenyum-senyum memikirkan hal itu.

Impiannya menjadi gubernur memang sudah ada dalam genggamannya. Ia tidak hanya merasa didukung pejabat dan pembesar di daerahnya. Masyarakat di daerahnya pun telah mengajukan namanya dalam penjaringan dengan antusias. Dan, ia tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan itu.

“Kring… kring… kring!” Darso lompat dari tempat duduknya. Koran yang dibacanya ia lempar. Pikirannya tertuju pada telepon itu.

“Halo, di sini kediaman Darso. Ada keperluan apa?”

Suara di telepon menjawab, “Apakah ini rumahnya Dinda? Dindanya ada, Pak?”

“Dinda tidak ada. Ia sedang beli baju dan makanan,” jawab Darso dengan kesal.

“Terima kasih, Pak,” ujar suara di telepon sambil menutup telepon.

“Sial. Ditunggu dari tadi, yang ada malah buat Dinda,” umpat Darso sambil memungut koran yang dilemparnya.

Ia berpikir kembali. Ia merenung sambil tersenyum-senyum. Ia sudah berjanji tidak akan berbuat seperti yang dilakukan Legowo. Baginya, Legowo terlalu tolol. Padahal, posisi gubernur yang didapatkannya karena bantuan dari pejabat-pejabat itu.

“Sudah dapat tempat enak, kok tidak mau membantu,” pikirnya.

Ia tidak ingin mengulang kesalahan itu. Ia akan bekerja sama dengan orang-orang yang mendukungnya. Ia berpikir bahwa hal itu tidak ada ruginya. Hal itu pasti akan memantapkan posisinya untuk jabatan-jabatan di masa mendatang. Ia berencana membangun daerahnya melebihi daerah di sebelahnya. Pabrik, realestat, mal, gedung-gedung megah, semuanya akan didirikan, Ia berharap hal itu akan menjadi kenangan manis selama hidupnya. Gubernur Darso berhasil membangun daerahnya. Ia pun tersenyum.

Telepon belum juga berbunyi. Sore telah mendatanginya. Ia merasa pegal-pegal menunggu seharian. Ia mulai berpikir apakah dirinya telah dibohongi. Apakah mungkin Legowo akan menjabat lagi? Ia membuang pikiran itu jauh-jauh. Legowo bukan saingannya. Di samping itu, seperti yang ia dengar, Pak Menteri pun telah menyetujui dirinya jadi gubernur. Maklum, semua keputusan itu ada di tangan Pak Menteri.

Istri dan anaknya yang sejak siang berbelanja sudah pulang. Istrinya memang ia suruh menyiapkan segalanya untuk menyambut hari yang berbahagia itu. Ia tahu para wartawan pasti akan datang. Tetangga-tetangga juga akan menyalaminya. Belum lagi para pejabat dan bawahannya. Ia berencana untuk menyambut mereka semeriah-meriahnya. Ia tidak mau dibilang pelit. Istri dan anaknya juga ia suruh beli baju baru agar tampak cantik dan berwibawa. Ia seakan-akan mau berujar, “Ini baru keluarga gubernur.”

“Masih belum ada kabar, Pak?” tanya istrinya yang sejak tadi melihat Darso gelisah mulai bertanya.

“Tahu nih. Padahal saya harus menyiapkan segala sesuatunya. Sampai jam segini belum ada tanda-tandanya juga,” jawabnya dengan nada kesal.

Coba saja Pak telepon ke kantor. Mungkin orang kantor sudah tahu,” usul istrinya.

“Malas ah. Nanti saya dikira meminta-minta,” jawab Darso tegas.

Telepon itu masih tergeletak di pojok. Belum juga berbunyi. Sudah dua buah buku habis dibaca Darso. Ia sudah mulai kesal. Keinginan-keinginan yang ia bayangkan berubah jadi kekecewaan. Wajah Legowo terlintas di benaknya. Ia bayangkan lagi apa yang kini disiapkan Legowo menyambut pengumuman ini. Apa ia juga sudah membeli baju dan makanan seperti yang ia perintahkan kepada istrinya. Atau malah ia sekarang pergi ke luar kota agar tidak ada orang yang mengejarnya dan memberi perhatian. “Legowo, Legowo, kau tidak mungkin menang melawanku,” ujarnya dalam hati.

Sore menjadi larut. Malam sudah memanggil bulan. Angin pun sudah menyaruk-nyaruk pohon dan jendela. Telepon belum juga berbunyi. Anaknya yang ingin menelepon ia larang. Ia tidak ingin gagal jadi gubernur gara-gara teleponnya tidak bisa dihubungi karena sibuk. Ia merenung lagi. Ia berjanji dalam hati akan memberi sedekah kepada fakir miskin bila jadi gubernur. Ia akan menyumbang untuk pembangunan masjid, menjadi orang tua asuh, atau memberi lapangan pekerjaan pada pengangguran. Pokoknya, ia akan beramal.

Darso melihat sekali lagi pada telepon itu. Tidak ada keanehan. Telepon itu masih tetap di tempatnya. Ia mengecek kembali kabelnya. Mengecek kembali suara teleponnya. Ia harus yakin seyakin-yakinnya bahwa memang tidak ada yang salah pada teleponnya.

Ia membayangkan lagi wajah teman-temannya, koleganya, saudara-saudaranya, pejabat-pejabat, teman anaknya, masyarakat daerahnya yang tersenyum puas karena ia menjadi gubernur, jabatan tertinggi yang diincar banyak orang.

Ia sudah lelah sekali. Malam semakin larut. Ia akhirnya tertidur di depan telepon itu. Istrinya tidak mau membangunkannya. Istrinya berpikir, mungkin nanti malam atau dini hari telepon itu berbunyi. Dan suaminyalah yang pertama mengangkatnya.

Darso masih tertidur. Dalam tidur ia mendengar teleponnya berdering-dering. Ia pun melihat semua temannya sedang menunggu dirinya untuk sekadar memberi ucapan selamat. Podium kebesaran pun sudah disediakan bagi dirinya untuk memberi wejangan dan ucapan terima kasih. Istri dan anaknya pun sudah memakai baju yang baru dibeli kemarin. Mereka memang layak menjadi keluarga gubernur. Masyarakat yang ingin melihat wajah gubernur mereka yang baru sudah menanti di halaman gedung. Teriakan mereka seakan-akan membuat dirinya melambung jauh di atas awan. “Darso, Darso, Gubernur Darso, Gubernur Darso.” Ia melihat Legowo di ujung sana dengan muka yang tidak senang. Darso tersenyum karena ia berhasil mengalahkannya.

Darso seperti mendengar telepon. Dicoba didengarnya dengan saksama. Ia ingin memastikannya lebih jelas. Tiba-tiba suara telepon itu berubah. Darso seperti tercekik Ia sulit bernapas.

“Kring… kring… kring… kring.”

Di luar rumah, orang berkumpul memasang tenda.

Berita Buana, 16 Agustus 1998

Posted by: koekoeh | Juni 12, 2008

RATU ADIL DALAM KONSEP ORANG EIPOMEK

 RATU ADIL DALAM KONSEP ORANG EIPOMEK

 Koyeidaba pun dibunuh serta disembelih. Daging tubuhnya dibagi rata. Mereka percaya kekuatannya akan menular. Saudara perempuannya yang bernama Nooku juga dikejar dan dipanah. Namun, sebelum sempat dibunuh, Nooku secara aneh menghilang ke arah barat, sambil menyebut segala malapetaka yang akan terjadi dan berjanji akan datang kembali. Sejak saat itu masyarakat Mek mengalami kesusahan yang berkepanjangan akibat kesalahan mereka sendiri. Dalam kesengsaraan yang tiada tara itu, mereka selalu menunggu kehadiran Nooku untuk memberi kembali kemakmuran yang pernah mereka rasakan.”[1]

  

1

 

Masyarakat suku bangsa Mek mendiami daerah pegunungan yang ketinggiannya mencapai 1.765 meter di atas laut. Orang Mek menyebut dirinya me, yang berarti manusia. Mereka terdiri atas lima subsuku bangsa. Masing-masing adalah Eguwai, Mogopiya, Iyatuma, Wodatuma, dan Makituma. Menurut catatan, luas seluruh wilayah Mek mencapai 855,64 km persegi, dengan permukiman masyarakat yang menyebar di berbagai tempat. Di antara begitu luas wilayah dan sebaran penduduk, ada masyarakat yang tinggal di sekitar Lembah X, yang sering disebut suku Eipomek, atau manusia yang tinggal di daerah Sungai Eipo.

Seperti masyarakat Mek lainnya, adat dan budaya suku Eipomek tak banyak berbeda. Mata pencarian pokok mereka adalah bercocok tanam di ladang. Bila diamati, orang Mek mempunyai perawakan tubuh yang kecil (pygmoid). Mereka mendiami rumah-rumah yang berupa pondok-pondok. Rumah itu dibuat dari bahan pilihan. Papan-papan  didirikan secara vertikal dan diletakkan sangat rapat tanpa celah. Papan itu diikat dengan simpul-simpul tali yang indah. Atap juga disusun tak bercelah dengan bahan dari kulit kayu dan daun pandan atau palma. Bentuk rumah mereka panjang dan bulat dengan tinggi sekitar 3 meter. Rumah-rumah tradisional umumnya dibuat tanpa jendela. Lantainya dari papan kulit nibun. Di tengah-tengah kamar ada tungku api sebagai tempat memasak.

Meski tampak sederhana, seorang antropolog dari Belanda, Jan Boelaars menyebut masyarakat Mek bukan suatu suku bangsa yang miskin dan terbelakang, yang menunggu saat-saat kepunahan. Justru di sana kita akan menemukan orang-orang yang tahu dengan baik bagaimana membangun dunia mereka yang kecil itu berdasarkan kebun-kebun, wanita-wanita, dan uang siput. [2]

Senada dengan Boelaars, saya melihat kekuatan pribadi orang-orang Eipomek itu disebabkan tempaan pengalaman yang kerap mereka alami. Berbagai upacara dan kebiasaan yang dilakukan mengindikasikan bahwa mereka mempunyai wilayah sendiri yang dihayati dengan sepenuh hati. Inilah kekuatan rohani yang membuat mereka sanggup bertahan di tengah kondisi lingkungan yang sungguh ekstrem itu. Mereka yakin bahwa suatu saat kehidupan mereka akan menjadi lebih baik. Kekuatan rohani itu pula yang membuat mereka menjaga dengan sangat rapat wilayahnya ketika orang luar ingin masuk ke dalamnya.

Meski orang Mek sering disebut sangat tertutup dan menjaga relasi kekerabatannya dengan ketat, hubungan dengan pihak luar justru berlangsung sebaliknya. Mereka adalah bangsa yang ramah dan mudah diajak berkomunikasi. Dalam kaitannya dengan pihak luar, suku Mek pertama kali bertemu dengan kaum pendatang pada tahun 1935. Saat itu sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Dr. Bjilmer telah masuk sampai ke daerah Mapia.

Keramahan orang Mek kepada tamu dari luar memang punya dasar. Seperti halnya dalam beberapa kepercayaan suku-suku di Papua, orang Mek juga sangat yakin bahwa pada suatu waktu akan datang seorang “tamu” yang akan membawa mereka ke dalam sebuah masa keemasan dan kemakmuran. Keyakinan inilah yang membuat mereka tetap hidup. Inilah ruh dari harapan yang terus diidam-idamkan orang Mek, dan juga masyarakat Papua lainnya.

 

2

 

Seperti suku bangsa lainnya, orang Mek juga memiliki harapannya sendiri. Keinginan itu dibangun berdasarkan situasi dan kondisi yang mereka alami, yang titik akhirnya berpusat pada keadaan hidup yang lebih baik. Bagi masyarakat Jawa, konsep harapan akan sesuatu yang baik sering diasosiasikan dengan kedatangan “Ratu Adil” yang akan membawa mereka kepada kehidupan yang lebih adil dan sejahtera. Di dalam konteks Islam, orang sering menyebutnya dengan nama Imam Mahdi. Bagi yang percaya, Imam Mahdi ini nantinya akan muncul untuk membantu masyarakat Islam melawan Dajjal.

Kepercayaan-kepercayaan yang tumbuh dalam kaitannya dengan dunia harapan yang lebih baik juga dimiliki oleh masyarakat yang tinggal di Papua. Di dalam kebudayaan suku-suku di Papua ada suatu kepercayaan yang tersebar luas dan dikenal dengan beraneka nama, seperti wae, hae, dan sego-sego. Akan tetapi, di dalam ilmu antropologi budaya hal itu dicakup dengan istilah asing cargo cult (kargoisme).[3] Inti dari kepercayaan tersebut adalah tiap-tiap suku percaya bahwa di zaman dahulu ada satu atau beberapa orang leluhurnya yang merantau ke daerah yang jauh sekali untuk mencari kekayaan atau harta karun. Pada suatu waktu mereka akan datang kembali dan membawa harta itu untuk dibagikan kepada semua anggota suku.

Gerakan kargo ini sebenarnya lebih berhubungan dengan sifat religius atau keagamaan. Gerakan ini biasanya muncul dari seseorang yang mendapat “pesan” tertentu yang isinya mengatakan bahwa ia diberi tugas untuk membawa masyarakat ke dalam dunia yang lebih baik. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa si mesias bisa datang dari orang suku tersebut atau orang luar yang dianggap mempunyai kemampuan untuk itu. Pada suku Mek, mereka percaya bahwa misionaris memiliki kunci gaib yang dapat dipakai untuk mendatangkan kekayaan materi yang diduga disimpan di bawah tanah. Barang-barang yang dimaksud itu adalah kampak, parang, garam, beras, dan barang mewah lain. Mereka percaya bahwa “orang asing” itu mampu memanipulasi kekuatan roh yang memberi kargo. Buktinya, menurut mereka, misionaris dapat hidup dalam kondisi berkecukupan. Dalam kaitannya dengan film dokumenter saya, tak mengherankan jika nama Saudara Bondan terus dikenang mereka, baik dalam percakapan biasa maupun dalam upacara adat. Bisa dikatakan bahwa Bondan adalah “harapan” mereka. Saudara mereka yang pergi jauh, yang nantinya akan memberi kemakmuran kepada mereka. Seorang “ratu adil” yang kerap ditunggu, meskipun dalam wujud anak atau cucunya.

Kisah-kisah dan kepercayaan seperti ini tidak hanya dipakai untuk mengidentifikasikan diri dengan nenek moyang yang biasanya mempunyai kekuatan-kekuatan supranatural yang tinggi. Bagi masyarakat Papua, kisah-kisah itu adalah dasar pijakan untuk melihat masa depan. Di dalamnya terdapat begitu banyak petunjuk yang akan menjadi pedoman di dalam kehidupan mereka selanjutnya. Seluruh peristiwa yang pernah dialami nenek moyang mereka menjadi ciri-ciri tertentu pada keadaan dan kehidupan masyarakat. Pada akhirnya, segala macam penjelasan mengenai keadaan dunia dan kehidupan manusia dapat ditemukan di dalamnya.

          Selain itu, dalam konteks masyarakat Papua, kisah-kisah lama juga mencerminkan harapan-harapan akan kedamaian abadi, kesehatan, kesejahteraan, cinta kasih, kebebasan, dan keselamatan di masa depan. John G. Strelan menyebut ada lima tema yang kerap menjadi pokok pikiran dalam mitos-mitos masyarakat di Papua. Yang pertama berupa perselisihan antarumat manusia. Tema kedua membicarakan pertentangan dua orang bersaudara. Hilangnya taman Eden atau Firdaus yang pernah dialami dan disaksikan leluhur mereka di masa lampau akibat kelalaian dan pelanggaran suatu kelompok masyarakat merupakan tema ketiga. Yang keempat adalah kepercayaan bahwa sejarah kehidupan manusia yang penuh dengan tekanan dan kemiskinan akan berakhir dan diganti dengan era baru. Yang terakhir berhubungan dengan kedatangan seorang juru selamat atau mesias bersama-sama dengan leluhur mereka untuk membawa mereka kembali ke zaman keemasan dan keadilan.[4]

Harapan-harapan yang tercermin dari tema-tema cerita dan kepercayaan masyarakat itu tentunya menimbulkan asumsi bahwa selama ini mereka hidup di dalam suatu kondisi tertentu, sehingga imajinasi mereka kerap dipenuhi harapan-harapan mengenai kehidupan yang lebih baik. Imajinasi inilah yang telah memberikan harapan hidup dan memupuk daya tahan spritual mereka. Di tengah kondisi geografis dan kehidupan sosial yang memprihatinkan, mereka mampu memaknai hidup dan sanggup bertahan. Inilah fungsi utama kepercayaan mereka, dan juga sebuah kearifan budaya yang patut dicontoh.

Meski demikian, kita juga disadarkan bahwa mereka secara tidak langsung menginginkan sebuah kehidupan yang lebih baik, seperti yang dialami tamu-tamu mereka yang datang dari luar. Bila dicermati lebih dalam, tamu-tamu itu akhirnya bukan hanya seorang “mesias” atau “ratu adil”. Dalam konteks sekarang, tamu-tamu itu adalah saudara sebangsa yang peduli dengan keinginan mereka untuk hidup lebih baik.

 

 


PUSTAKA ACUAN

 

Alua, A. Agus., “Suku Ekagi di Kabupaten Paniai” dalam Etnografi Irian Jaya: Panduan Sosial Budaya Buku Kesatu. Kelompok Peneliti Etnografi Irian Jaya, 1993.

Boelaars, Jan., Manusia Irian: Dahulu, Sekarang, Masa Depan., Jakarta: PT Gramedia, 1986.

Giay, Benny., Kargoisme di Irian Jaya. Irian Jaya: Region Press, 1986.

Koentjaraningrat, dkk., Irian Jaya: Membangun Masyarakat Majemuk. Jakarta: Djambatan, 1993.

Kasiepo, Manuel, dkk. Pembangunan Masyarakat Pedalaman Irian Jaya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987.



[1] Kisah makhluk ideal yang bernama Koyeidaba ini secara lengkap dapat dibaca di dalam skripsi sarjana muda STTK tahun 1979 yang dibuat oleh Bosco Thom Agapa pada halaman 19-26. Pun pada skripsi sarjana muda Uncen 1979 yang dibuat oleh Victor P.F. Kudiyay di halaman 25-27.

[2] Lihat Jan Boelaars (1986), hlm. 86

[3] Mengenai gerakan kargoisme di Papua, lihat karya Benny Giay, Kargoisme di Irian Jaya (1986)

[4] Lihat Search for Salvation (1977) karya John G. Strelan hlm. 60-61

Posted by: koekoeh | Mei 30, 2008

Foklor dan Rekonstruksi Budaya

Foklor dan Rekonstruksi Budaya

 

Foklor sebagai suatu disiplin atau cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri di Indonesia belum lama dikembangkan orang. Kata foklor adalah pengindonesiaan kata Inggris folklore. Kata ini adalah kata majemuk, yang berasal dari dua kata, folk dan lore.

 

Folk sama artinya dengan kolektif. Menurut Alan Dundes, folk adalah sekelompok orang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, social, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok  lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain dapat berwujud warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencarian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun, yang penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki satu tradisi, yakni kebudayaan, yang telah mereka warisi turun-temurun, sedikitnya dua generasi, yang dapat mereka akui sebagai milik bersamanya. Di samping itu, yang paling penting adalah bahwa mereka sadar akan identitas kelompok mereka sendiri. Jadi, folk sinonim dengan kolektif, yang juga memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat.

 

Yang dimaksudkan dengan lore adalah tradisi folk, yaitu sebagaian kebudayaannya yang diwariskan turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pengingat. Dengan demikian, definisi folklor secara keseluruhannya adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Untuk dapat membedakan dengan kebudayaan pada umumnya, folklor mempunyai beberapa ciri-ciri pengenal seperti:

 

  1. penyebaran dan pewarisannya bersifat lisan
  2. bersifat tradisional
  3. ada dalam versi-versi bahkan varian yang berbeda
  4. bersifat anonim
  5. biasanya mempunyai bentuk berumus
  6. mempunyai kegunaan  dalam kehidupan bersama kolektifnya
  7. bersifat pralogis
  8. milik bersama (kolekif)
  9. pada umumnya bersifat polos dan lugu

 

Foklor dapat dipergunakan untuk merekonstruksi nilai budaya atau pandangan hidup suatu masyarakat. Pengetahuan nilai budaya suatu kolektif sangat penting karena dengan pengetahuan itu kita akan dapat menilai apakah pandangan hidup yang dianutnya sesuai atau tidak dengan jiwa pembangunan. Kebudayaan pada dasarnya dapat diteliti melalui tiga aspek, yaitu:

         

  1. Kebudayaan sebagai tata kelakuan
  2. Kebudayaan sebagai kelakuan manusia
  3. Kebudayaan sebagai hasil kelakukan manusia

 

Aspek pertama dari kebudayaan adalah yang paling penting karena ia akan menjadi pedoman dari aspek kedua, yakni perilaku pendukungnya dan selanjutnya kelakuan itu akan menghasilkan aspek ketiga yakni hasil kelakuan. Dalam rangka pembangunan juga demikian, perilaku pembangunan baru dapat terbentuk apabila ditopang oleh tata kelakuan yang bersifat pembangunan.

 

Secara konkret tata kelakukan yang bersifat pembangunan adalah berupa cita-cita, norma-norma, pandangan hidup, hukum-hukum, aturan-aturan, kepercayaan-kepercayaan, sikap, dan sebagainya, yang kesemuanya bersifat untuk meningkatkan taraf hidupnya, baik secara fisik maupun mental suatu kolektif. Kolektif yang dimaksud itu dapat berupa suatu suku bangsa maupun bangsa.

 

Objek yang dapat dijadikan bahan analisis untuk mengetahui tata kelakuan itu macam-macam, namun salah satu yang paling sahih adalah bentuk-bentuk foklor dari suku bangsa atau kolektif bersangkutan. Hal tersbut disebabkan foklor mengungkapkan kepada kita secara terselubung (dongeng) atau secara gamblang (peribahasa) bagaimana folknya berpikir. Selain itu juga melalui folklor, suatu kolektif mengabadikan atau mengungkapkan apa yang dirasakan penting baginya pada suatu masa. Ini berbeda sekali dengan etnografi (monografi dari suatu kebudayaan) karena suatu etnografi lebih merupakan hasil rekonstruksi dari kebudayaan  suatu suku bangsa oleh penelitinya, sehingga apa yang diabadikan atau diungkapkan sebenarnya adalah bukan yang dirasakan  penting untuk ditonjolkan dan disajikan pendukung kebudayaan itu sendiri.

 

Folklor yang dimaksudkan di sini adalah bagian kebudayaan dari berbagai kolektif di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya, yang disebarkan secara turun-temurun di antara kolektif-kolektif bersangkutan, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.

 

Bagian dari kebudayaan yang disebut foklor itu dapat berupa ujaran rakyat, ungkapan tradisional, teka-teki, cerita prosa seperti mite, legenda, dan dongeng (termasuk anekdot atau lelucon), nyanyian rakyat, teater rakyat, permainan rakyat, kepercayaan dan keyakinan rakyat, arsitektur rakyat, seni rupa dan seni lukis rakyat, musik rakyat, dan sebagainya.

 

Bahan-bahan foklor tersebut dapat dijadikan bahan untuk penganalisisan tata kelakuan kolektif pendukungnya. Hal ini disebabkan mereka masing-masing mempunyai empat fungsi:

 

  1. sebagai sistem proyeksi
  2. sebagai alat pengesahan
  3. sebagai alat pedagogik
  4. sebagai alat pemaksa berlakunya norma masyarakt dan pengendalian masyarakat

 

Secara garis besar bentuk-bentuk folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kategori, yakni folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor bukan lisan. Perlu kiranya untuk ditambahkan di sini bahwa istilah tradisi lisan sinonim dari folklor lisan.

Posted by: koekoeh | April 3, 2008

Kumpulan Puisi Lawas

Ini adalah beberapa puisi yang berhasil terselamatkan karena tersimpan di www.lallement.com. Beberapa puisi yang ditulis sejak tahun 1995-2004 tidak berhasil dibuka karena harddisk komputer yang bermasalah.

Selamat menikmati.

RUANG

kita adalah ruang kosong itu dengan jendela setengah terbuka
membiarkan matahari mengusamkannya perlahan-perlahan
seperti biasa
bila musim kemarau tiba
debu-debu dari perut bumi yang bergelora
dengan leluasanya bercengkerama di atas tubuh kita
menari dan berjingkrak mencari-cari bagian yang leluasa disinggahinya
sekadar membuatnya tampak lembap dan tak bercahaya
kita memang selalu lupa
mengisinya dengan sebuah lemari, sebuah meja, dan sebuah lampu belajar
yang barangkali mampu menjadi persinggahan sementara
atau paling tidak lekas tahu dan buru-buru menutup jendela
sebelum debu yang dibawa angin musim itu mencapai telinga dan mata kita
kita memang ruang kosong itu
yang senantiasa harus diisi dan dilengkapi
agar mampu bertahan dari debu dan angin kemarau yang makin jahat
di musim ini

depok, oktober 1997

PAGI

pagi adalah milik mawar yang terkantuk-kantuk
membuka gaunnya mengejar panas matahari
untaian kehidupan yang warna-warni harus segera disambutnya
agar malamnya dia bisa leluasa merenungkan
apakah esok keindahan masih tetap tegar di tempatnya
pagi juga milik kumbang yang dengan sabar menanti mawar
malam yang panjang dilewatinya dengan gelisah
mengharap pagi tetap bersahabat dengannya
tanpa hujan dan angin yang bergemuruh
kumbang memang selalu setia menanti mawar
menunggu pesona keanggunan di ujung-ujung kain merahnya
seperti hidup yang terus bersambung
pagi adalah kehidupan buat mawar dan kumbang

warung buncit, januari 1998

LAMPU

duduk berlama-lama memandang kota pada malam hari selalu ada yang muncul begitu saja
malam ini mungkin kau hanya menemukan cahaya berpendar lewat lampu-lampu jalan
yang tegak berdiri menyambut pagi
malam berikutnya, tanpa disengaja, bisa saja kau akan mendengar lampu-lampu yang sabar itu bercerita kepada setiap yang ditemuinya
bagaimana seharusnya melewati tiap-tiap malam tanpa air mata

warung buncit, januari 1988

CERITA DI MUSIM KEMARAU

Biasanya kita akan sampai pada musim kemarau ketika langit berwarna jingga dan angin berjalan sendiri, tersaruk-saruk di atas kerudung tipismu yang warna-warni. Dalam suasana yang sedemikian sempurna, kita sering tiba-tiba menghadap ke langit dan mereka-reka bentuk awan. Sekejap, kita seperti anak kecil yang berebut memiliki gugusan putih itu: menghitungnya, lalu mengejanya perlahan-lahan. “Lihatlah di atas sana,” serumu tertahan. Burung-burung kecil kita yang riang dengan candanya memainkan warna awan. Dari putih ke abu-abu, lalu ke biru, ke jingga. Di musim seperti ini, langit adalah taman kanak-kanak bagi burung, dan kadang layang-layang. Sebuah ruang yang bersahaja. Tempat untuk bermain dan menyambut matahari.

mampang, 15 Juli 2000

KARTU POS

Ketika berlayar di sebuah telaga, kakekku dengan lantang berteriak, “Aku ingin membawamu ke samudra luas. Ke sebuah dunia yang tak pernah kau lihat sebelumnya, bahkan dalam impianmu. Aku akan jadi Sinbad Pelaut untukmu. Aku tak ingin kau hanya seorang Portir yang setiap hari hanya mendengar petualanganku.” Kayuh yang dipegangnya pun diangkat tinggi-tinggi, laksana pedang perkasa untuk membunuh ular raksasa. Kakek pun mengajakku menjelajahi dunianya, di antara riak air dan semak gulma. “Itulah Gunung Kera. Di dalamnya banyak makhluk paling kejam yang membuatmu tak bisa melihat dunia. Ayo, kita ke sana. Akan kutunjukkan bahwa aku bukan hanya pedagang kaya yang lolos dari maut dengan tidak sengaja. Akulah Sinbad Pelaut yang perkasa,” sambil tangannya menunjuk ke sebuah gundukan tanah yang berdiri tegak di atas air. Perahu berguncang. Telaga bergelombang. Air dan matahari menjadi satu: penuh warna-warni.
Saat melihat kartu pos bergambar telaga, aku ingat kakekku yang kini sedang berlayar di antara riak nirwana.

mampang, 22 Juli 2000

MALAM

dan malam membekapku dengan iramanya yang paling sempurna
lengking sedihnya membuatku buta
hentakan-hentakan melodinya yang ganas
adalah tanda bahwa cahaya yang datang pasti akan sia-sia merebutnya

depok, 1999

ANGIN

Aku adalah angin musim dingin yang menampar perahu di dermaga itu
Jangan paksa aku ikut denganmu ke tengah laut yang sedang pasang
Aku baru saja kembali dari sana, berjumpa si pusaran yang tak mau diam
Aku hanya mau di sini, berjalan dengan tenang
Menumbuk-numbuk tingkap dan menyibakkan helai-helai nyiur yang kaku
Biarkan aku mengeja cuaca yang senantiasa berubah

Mampang, 31 Juli 2000

Posted by: koekoeh | April 3, 2008

Masalahnya disebut kapitalisme

Masalahnya disebut kapitalisme

diambil dari situs http://islamhariini.wordpress.com/tanpa perubahan atau penambahan

Terjemahan dari buku Esoteric Deviation In Islam – Umar Ibrahim Vadillo, Capetown 2003

Dunia mempunyai satu masalah dan itu disebut kapitalisme. Dunia tidak dapat melepaskan diri dari padanya. Pernah dicoba sekali tapi revolusi itu dibajak oleh marxisme, gagal dan di fahami. Kita tidak akan gagal karena kita percaya kepada Allah sedangkan Proudhon tidak. Freemasonry bukanlah tangan tersembunyi dari kapitalisme, tapi adalah suatu alat yang melayani kepentingan kapitalisme.Pertama filosofi toleransi, kemudian esoterisasi dari agama, membongkar kekuasaan dibelakang pelarangan riba.

Fremasonry memasuki dunia Muslim, tetapi kapitalisme lebih dulu masuk dengan pengaruh yang lebih merusak. Orang Muslim tidak tahu harus bagaimana bersikap menghadapinya.Perbankan adalah kekuatan yang besar sekali, dan tidak seorangpun dari penguasa waktu itu yang dapat menghadapinya. Akibatnya adalah tamatnya Khalifah.

Untuk seratus tahun kita tanpa Khalifa. Selama waktu itu perubahan telah diperkenalkan kedalam Islam, dalam dua front yang direncanakan untuk melumpuhkan Islam, satu-satunya kekuatan yang dapat mencegah kapitalisme dari pencapaian tujuan akhirnya yaitu negara dunia. Satu front adalah modernisme exoteris dan yang kedua adalah tradisionalisme atau keabadian esoteric

Keduanya dipengaruhi oleh freemasonry dan didorong oleh para freemason. Dalam zaman kita sekarang ini kedua front telah menjadi satu.Penyimpangan esoteris ini adalah persiapan untuk Islam memasuki fase akhir dari kapitalisme. Kita akan mencegah hal itu. Buku ini adalah langkah awal dalam membasmi penyakit yang telah berumur seratus tahun ini. Insha’allah. Keyakinan saya pada Allah

Buku ini akan menilai apa yang kita sebut penyimpangan esoteris, usaha sia-sia yang akan merusak Islam dengan ide-ide dan doktrin tertentu yang palsu. Tujuan kita adalah membersihka ruangan untuk membuat perlengkapan untuk meninggalkan kapitalisme. Kita tidak bermaksud menghancurkan bank, kita akan membuat bank ini tidak diperlukan. Ini adalah persiapan untuk perang melawan kapitalisme. Allah telah melarang riba dan karena itu telah menyatakan perang terhadap kapitalisme.Mulai sekarang dunia harus dan akan tahu bahwa Islam adalah musuh mematikan dari kapitalisme.

Untuk waktu yang lama di Barat, ilmu ekonomi telah menjadi dewa yang utama. Pialang dan bankir adalah pendeta pendeta tinggi. Paling tidak sejak Adam Smith mengemukakan idenya tentang tangan yang tidak tampak, dianggap bahwa bila seseorang pertama tama mencari kerajaan dari Mammon, maka segala hal (sosial, kebebasan individu, kesejahteraan unuversal) akan diberikan kepada anda, juga produk sampingan dari pasar bebas ( pernyataan pasar bebas itu sendiri kenyataannya tidak jujur seperti menyatakan bahwa prostitusi adalah cinta sejati). Ilmu ekonomi telah menembus semua segi kehidupan: ia mengambil alih politik, mengubah negara menjadi hanya suatu industri; ilmu pengetahuan dan informasi telah di privatisasi, dengan akibat yang menghawatirkan dengan mengetahui bahwa dari observasi dunia terhadap obat obatan yang kita pakai bersama adalah kekayaan perusahaan yang dapat di patenkan; dan agama-agama telah di ubah secara universal untuk menerima kapitalisme dan riba.Hanya Islam yang dapat menyelamatkan.

Agama2 lain? Apa itu agama2 lain? Toleransi telah menamatkan mereka pada waktu yang lalu. Mereka telah disaring, dikurangi dan disatukan diluar pengetahuan. Yang tinggal hanyalah dewa pribadi dan perasaan pribadi. Kita hanya akan mempunyai kerajaan kristen dan Khalifat Muslim, daripada suatu kekaisaran dunia Soros. Kejahatan adalah satu. Muslim hanya akan hidup bila kita berbeda dari orang kafir. Yahudi dan kristen telah berkembang di bawah Islam atau melawannya. Dan Atheis? Mereka adalah penghianat kristen pada jalan Islam.. Dewa yang tidak mereka percayai juga tidak kita percayai. Mereka telah mengatakan setengah pernyataan : “la ilaha”, yang tidak masuk akal, jika tidak anda tambahkan “illa Allah”

Kita menerima persamaan berikut: evolusi yang tidak terputus dari kapitalisme dalam lima abad yang lalu memerlukan penghapusan dari undang-undang tentang riba. Itu berarti penghapusan dari kekuatan normatif dari agama. Ini seperti mengatakan: “Hukum Allah tidak berlaku atau tidak universal” kepada orang Muslim. Implikasi moral dari perembesan kapitalisme adalah; “riba, meskipun dilarang oleh Allah, harus diterima”. Itu menyatakan, Muslim harus menerima kapitalisme. Ada tiga jawaban terhadap hal ini: menerima kapitalisme, menolak kapitalisme atau keduanya. Yang pertama hanya suatu penerimaan pasif dari kehidupan seperti dalam moto “agama tidak ada urusannya dengan ilmu ekonomi”; tapi yang terakhir paling berbahaya karena itu berarti penolakan diam-diam dari Islam yang disamarkan sebagai reformasi. Mereka menemukan “ekonomi Islam”. Reformasi ini dimulai oleh Al-Afghani, ‘Abduh dan Reda. Hal ini menuju kepada fundamentalisme Islam dan modernisasi Islam. Lambang mereka adalah “Bank Islam” , “konstitusi Islam” dan “negara Islam”. Islam pasca fundamentalis berarti penolakan kepada kapitalisme bersama dengan lembaga-lembaganya.

Esoterisasi Islam mempunyai rencana metafisis: monoteisme menggantikan Tauhid; dan rencana sosial: prinsip-prinsip Islam menggantikan Hukum Islam. Esoterisasi terjadi dalam beberapa tahap:

Tahap pertama esoterisisme terdiri dari penghapusan masa lalu: menghilangkan madhab-madhab (fiqh) dan Tasawwuf. Secara politik diwakili oleh oposisi terhadap Khalifate Osmanli, terutama Sultan Abdulhamid II Yang Agung.

Tahap kedua dari esoterisisme adalah fase pemanfaatan dimana Hukum Islam harus dinilai kembali secara menyeluruh dalam arti sosial, politik atau pragmatisme ekonomi. Sufisme yang benar dibuang dan Tassawuf baru mulai timbul dinyatakan sebagai Islam esoteris. Madhab lenyap dan satu set dasar-dasar Islam diaktifkan. Prinsip-prinsip Islam mengizinkan penerimaan asimilasi dengan masyarakat kafir: Bank Islam, negara Islam, bursa efek Islam, konstitusi Islam, asuransi Islam dst. Disamping mengakui bahwa Allah sangat berkuasa, mereka mengakui bahwa orang kafir Barat (yang dianggap jahat) pada kenyataannya lebih praktikal, dan mereka mau menyerah untuk meniru kekafirannya yang telah mereka katakan sangat membencinya ( misal: Republik Islam Iran).

Tahap akhir
adalah tahap asimilasi. Keabadian adalah metafisik baru mereka. Persaudaraan manusia dan agama yang universal diterima secara luas sebagai doktrin Islam. Tasawwuf di esoterisasi dan diterima dan Shari’ah secara esoteris diperlunak dan dibuat siap untuk menjadi hak azasi manusia secara Islam.. Hal ini mengikuti secara implisit Declaration of Human Rights, dan negara dunia sebagai mesiah kafir baru. Secara progresif semuanya yang membedakan agama-agama dinyatakan sebagai ruang exoteris (external, accidental dan peripheral) sedangkan ruang esoteris (internal, esential dan central) menjadi sesuatu yang membawa mereka bersama -sama.

Kapitalisme memerlukan keseragaman dan kebebasan untuk riba. Esoterisasi menyediakan keduanya. Merangkul semua agama adalah tehnik penipuan mereka. Riba di tafsirkan ulang secara esoteris. Mula-mula dikurangi menjadi ‘bunga’ dan kemudian menjadi pernyataan moral dari ‘perdagangan jahat’. Riba tidak lagi suatu praktek nyata, tapi suatu prinsip moral. Dari menghadapi kejadian itu kita memproyeksikannya kedalam bidang etik dan moralitas, dimana prinsip-prinsip dan hak-hak menguasai kenyataan.

Keperluan dari suatu gerak ibadat yang murni telah dikurangi nilainya dan dicemarkan sesuai dengan pengertian praktis keperluan tsb. Kelakuan ini menyerupai kelakuan seseorang yang tidak percaya kepada Tuhan.Dalam hubungan ini penting untuk dicatat bahwa orang-orang penganut semua agama pada saat ini mengikuti cara hidup yang kurang lebih sama. Kita semua punya bank, uang kertas, membayar dibawah suatu sistim pajak yang makin homogen, dengan kartu identitas dan suatu sistim registrasi. Muslim, kristen dan yang tidak percaya kepada Tuhan pada dasarnya harus hidup dengan cara yang sama . Perbedaan dikurangi sesuai dengan moral pribadi dan sikap sexual, yang membentuk puritan atau liberal dialektik, juga kepada hari apa mereka akan pergi ke kuil. Moralitas di turunkan menjadi ‘aku mengerjakan apa yang aku bisa’. Kami mengusulkan suatu perubahan mental yang dibuat oleh penelitian manfaat dari ‘apa yang dapat kita kerjakan?’ Kita bisa berbuat jika kita menurut hanya kepada perintah Allah.

Perbuatan orang tidak dapat dinilai hanya dari keperluannya. Itu berarti kemenangan teknik dari kepatuhan terhadap Allah. Itu berarti kepentingan dari sistim bank lebih tinggi dari pada kepatuhan terhadap Allah. Seperti yang dikatakan oleh yang menyimpang: ” Allah yang paling berkuasa, tapi para bankir lebih praktis. Kita harus mengikuti sunna para bankir”. Ini suatu ironi dari dualisme mereka. Mereka menyebut bank adalah setan, tapi mereka cepat cepat meng-Islam-kan mereka (Bank Islam). Hal ini menunjukkan ketidak berdayaan visi mereka dan jelas menyebabkan mereka menyerah. Bank adalah lembaga yang dilarang oleh Allah dan untuk menerima mereka dan mencoba memasukkannya kedalam shalat kita berarti menyembah kepada sesuatu selain Allah. Hal ini biasa dihubungkan sebagai suatu yang praktis. Mereka berkata “kami praktis”, tapi mereka menipu diri sendiri. Dengan mengatakan bahwa mereka praktis adalah bukti ketidak berdayaan mereka yang berakibat ketidak mampuan bertindak sesuai dengan Islam. Satu ide yang paling umum pada cara berpikir secara esoteric adalah ‘kami tidak bisa menuruti perintah’ karena ada kekuatan-kekuatan lain yang melarang kami bertindak. Biasanya kekuatan-kekuatan ini dihubungkan dengan setan. Jadi setan itu-kata mereka- tidak mengizinkan mereka bertindak. Setan adalah semua musuh politik mereka. Tapi orang-orang ini tidak menyadari bahwa satu-satunya rintangan yang ada adalah diri mereka sendiri. Buktinya adalah ketika akhirnya mereka diberi kesempatan untuk bertindak mereka meniru setan yang mereka benci : Bank Islam. Mereka pikir bahwa sesuatu yang halal adalah tidak mungkin, dan pengertian ini membutakan mereka.

Tindakan Muslim adalah kepatuhan kepada Allah, dan kepatuhan ini ada di atas segala tujuan (keperluan). Kepatuhan adalah tujuan itu sendiri.Patuh kepada perintah Allah mengatasi segala keperluan. Hal ini bebas dari prasyarat dan segala ikut campur pengaruh pribadi.Bertindak dalam kepatuhan tidak terhalang oleh keterbatasan seseorang. Bertindak dalam kepatuhan adalah menginginkan apa yang diinginkan Allah. Seseorang yang patuh kepada Allah dapat dengan seketika menghilangkan sistim bank. Sistim bank tidak punya kekuatan dimata seorang Muslim.Sistim bank hanya punya kekuatan dimata pengguna esoteric atau exoteric. Ini suatu kegilaan.

Kemenangan seorang Muslim adalah kepatuhan kepada Allah. Kepatuhan dan hanya kepatuhan, memberinya perasaan apa itu shalat dan kemudian ia dapat menghormati hadiahnya. Tanpa kepatuhan shalat menjadi ritual dan kebudayaan dan mesjid menjadi kuil Jum’at terpisah dari kegiatan sosial ekonomi.

Pragmatisme adalah khayalan yang menipu diri sendiri dan ini berada dalam inti etik kemanusiaan. Ini adalah hasil dari metafisik Kantian, metafisik dari alasan praktis yang menerima arsitekturnya dari alasan murni, dan teori yang menentukan jalan ke praxis. Ini adalah metafisik dari prinsip-prinsip objektif dan subjectif. Pembebasan dari perangkap yang mendasar ini adalah suatu pencapaian Islam. Hasilnya adalah Muslim bisa patuh, dapat berdagang dengan benar, dapat berjuang di jalan Allah, dan dengan begitu bisa sembahyang. Dan ini yang kita inginkan.Kafir telah melarang kepatuhan kepada Allah, menghilangkan perniagaan, perkelahian diluar hukum fisabillillah, dan mengurangi sembahyang sesuai keperluan. Tapi Allah adalah aktor sejati dari sembahyang yang benar. Allah berkata dalam Qur’an: “Kamu tidak melempar, yang melempar itu adalah Allah yang melempar”. Allah juga mengatakan:”Perangi mereka! Allah akan menghukum mereka melalui tanganmu”. Tujuan hidup kita hanya memuja Allah. Kewajiban kita adalah Mengikuti perintahNya dan Allah dengan jelas mengatakannya dalam Qur’an: (Qur’an 33, 1-3).

Humanisme dengan kekuasaan legalnya, hak azasi manusia, pura-pura menolong agama-agama, kenyataannya menghapuskan semuanya. Tapi ini tidak berarti tidak ada lagi agama sama sekali. Agama baru adalah sistim perbankan. Dia memerintah dengan sistim yang berdasarkan mata uang buatan. Sistim perekonomian dunia dimana setiap orang harus menggunakan US Dollar adalah jelas suatu tirani terhadap semua bangsa lain di dunia, dan terutama Muslim. Semua grup politik dan perserikatan Muslim yang dalam seratus tahun terakhir telah mendukung sistim uang kertas, tidak peduli apa yang dikatakan mereka, telah mendukung sistim tirani yang dipakai oleh orang kafir menguasai dunia. Pengertian mereka tentang Islam disimpangkan karena mereka tidak dapat memahami apa yang tidak dapat diterima oleh Shari’ah, dan alasan untuk itu adalah mereka telah tercemar oleh pragmatisme kebutuhan yang sebenarnya adalah hasil dari metafisik esoterik. Ini adalah cerita seratus tahun fundamentalisme. Mengapa para fundamentalis telah tidak berhasil dalam seratus tahun terakhir? Mengapa mereka telah dikalahkan dalam setiap segi politiknya? Karena mereka tunduk kepada agama modern, riba.Pembentukan bank Islam menunjukkan sifat jahat dari kepercayaan mereka. Grup ini sama dengan grup pseudo-Sufi ( pseudo artinya palsu) yang mendukung riba sebab mereka pikir bahwa riba tidak akan mempengaruhi ‘transendental’ mereka.

Selubung moral baru telah menggantikan kekuatan normatif dari agama-agama. Hak azasi manusia, toleransi dan demokrasi adalah bendera moral yang digunakan untuk mengatur dunia. Mereka mengajukan ceramah palsu. Dengan latar belakagan tidak seorangpun dapat menanyakan sifat moral dari riba, saham atau uang kertas.Mereka sudah pasti, tidak dapat dibantah, tidak dapat disangkal. Kepastian mutlak dari riba ini , meskipun oleh kritik dari kapitalisme (Marx menerima riba seperti juga Friedman) membuktikan dasar suci dari kapitalisme.

Kapitalisme adalah gaya hidup utama saat ini dan jalan keluarnya hanyalah Islam. Islam adalah jalan dari semua penganut, adalah satu-satunya strategi yang tidak hanya menentang tapi menawarkan cara lain terhadap sistim kapitalis. Kapitalisme seluruhnya berdasar kepada riba, dan ini adalah kejahatan, karena begitulah yang ditetapkan oleh Allah. Muslim diminta menerima hak asasi manusia, toleransi dan demokrasi, tapi mereka tidak diminta untuk menerima kapitalisme, itulah yang sebenarnya.Seluruh perdebatan humanistik adalah suatu olok-olok untuk mnyembunyikan sifat jahat dari kapitalisme.

Kapitalisme tidak berperikemanusiaan, tidak toleran atau tidak demokratis. Tapi karena anda tidak dapat mengkritik bank dengan perangkat moral ini, jadi perangkat ini tidak cukup bagus. Semuanya tidak berguna. Riba telah memperbudak dunia dengan cara mengubah sifat uang, membuatnya se-akan akan produktif (bunga) dan seakan akan bernilai (fiat money). Tidak perlu dikatakan lagi, penilaian ini di atas dialektik palsu dari kiri dan kanan, dan kami menganggap sosialisme marxist adalah bentuk lain dari kapitalisme.

Pertempuran selanjutnya adalah antara Muslim melawan bank. Informasi sepihak berarti kebanyakan orang tidak tahu apa Islam itu dan penyelenggaraan pemerintahan Islam juga tidak memberikan contoh yang benar. Tapi Islam lebih besar dari pada itu yang menutupi-nya (kafir). Ketika Allah membuka gerbang Islam, orang akan mengerti dan mereka akan memeluk Islam dalam jumlah yang besar. Islam bukanlah kepunyaan orangArab, itu benar-benar agama dunia dan kita akan membutuhkan orang baru untuk menghadapi tantangan ini bersama dengan orang orang Arab terbaik.

Bila riba diizinkan tidak akan ada pemerintahan Muslim yang muncul. Kekuatan ekonomi yang dikuasai bank melebihi kekuatan dari lembaga-lembaga sipil atau politik manapun. Karena itu setiap usaha untuk membangun masyarakat yang jujur dan sopan berarti secara tidak langsung penghapusan sistim bank dan menggantikannya dengan sistim keuangan dan pembayaran yang baru yang tidak menyangkut riba. Melawan kenyataan riba-kapitalis saat ini, hanya ada satu kenyataan lainnya yang dapat menghapuskannya, dan itu adalah Islam.

Untuk mengerti politik kita anda harus mengerti aksioma ini: Tidak mempunyai agenda ekonomi adalah mempunyai agenda ekonomi. Semua agama dan jalan spiritual yang tidak mempunyai agenda ekonomi mempunyai agenda ekonomi yang harus mempertahankan status quo saat ini dan karena itu harus mempertahankan kapitalisme. Semua agama dan jalan spiritual itu yang tercemar oleh esoterisasi tidak mempunyai agenda ekonomi, sebab dalam pandangan mereka hal ini tidak perlu. Kita melihat bahwa sikap esoterik mereka yang mendukung secara diam-diam kepada kapitalisme, dan karena itu kami tidak heran menemukan bahwa kapitalisme telah mendorong visi esoterik. Esoterisisme adalah agama bagian dalam dari kapitalisme, seperti kapitalisme adalah jalan hidup esoterisisme.

Bagaimanapun juga, Allah mempunyai agenda ekonomi untuk kita. Allah berkata dalam Qur’an (2, 274): “Allah telah mengizinkan perdagangan dan melarang riba”. Ini berarti Allah telah melarang perbankan. Karena itu apakah bank harus dihilangkan atau hukum Allah yang harus dihilangkan. Karena hukum Allah tidak dapat dihilangkan, berarti bank yang harus pergi. Lumrah bahwa bank akan melakukan apapun untuk mempertahankan keadaannya, termasuk mencoba melemahkan atau malah menghilangkan hukum Islam. Mereka akan membela diri dengan mengatakan bahwa agama Allah tidak perlu melaksanakan hukum Islam, itu artinya, bahwa pelaksanaan hukum Islam tidak penting untuk agama Allah; dengan cara lain mereka akan mengatakan bahwa pelaksanaan hukum Islam tidak memerlukan Allah, itu artinya, tidak memerlukan kepercayaan pada Allah dan itu bisa diubah atau disesuaikan dengan alasan praktis– ini adalah orang-orang yang akan mengusulkan bank Islam. Pada urutan pertama dipertahankan oleh grup esoteric dan kedua oleh grup exoteric. Meskipun kedua grup ini berada dalam konflik satu sama lain, pada kenyataanya mereka sama.

Dibawah topik populer hak azasi manusia, toleransi dan persaudaraan kemanusiaan, doktrin esoteric telah mendominasi semua ceramah palsu politik dan agama pada saat pembangunan cepat dari dunia ekonomi sedang terjadi. Agama telah dipaksa kedalam suatu proses homogenisasi dan introspeksi. Proses ini adalah esotercisation. Dan tidak ada lebihnya, kecuali pengertian terhadap mekanisme yang dipakai dalam proses ini. Proses ini sejajar dengan kebangkitan atau eksternalisasi dari kapitalisme, yang telah menyerbu tidak hanya keseluruhan geografis dunia tapi juga segala aspek keberadaan kemanusiaan Ide dari Filosofi Esoteric telah dipalsukan mencoba membuat sesuatu dari ketiadaan. Nama ini telah diberikan kepada sesuatu semacam sintesis antara ilmu, agama dan filosofi dimaksudkan untuk memberikan visi baru untuk membentuk kembali peradaban masa depan, budaya, politik dan ekonomi, atau menyelamatkannya selama dalam pembentukan kembali.Kepadanya telah diberikan sejarah, prinsip-prinsip, hukum dan juga nilai-nilai moral yang menyatakan akan menuju ke pembukaan potensi-potensi manusia. Dinamika dari esoterisisasi secara tidak langsung menunjukkan adanya suatu kepergian dari bidang kekuasaan dan masuk kedalam bidang kekuasaan. Kedua bidang kekuasaan ini disebut sebagai exoteric atau exterior dan esoteric atau interior.Kedua golongan ini digambarkan secara simbolis sebagai bagian luar lingkaran dan pusat lingkaran. Jadi apakah proses itu bergerak secara esoteris kearah pusat, yaitu esotericisation, atau secara exoteric kearah lingkaran, yaitu exotericisation.Pusat lingkaran adalah bidang kekuasaan dari esoterisisme dan konsep atau persoalan esoteric, dan lingkaran luaradalah bidang kekuasaan exotericisme dan konsep atau persoalan exoteric. Untuk menjadi esotericist atau exotericist telah ditentukan dari kedua dinamika ini. Karena itu esotericist adalah mereka yang memuja persoalan esoteric diatas persoalan exoteric, dan exotericist adalah mereka yang buta mengenai persoalan esoteric yang mengingkari mereka sementara itu memuja persoalan exoteric. Memahami bahwa ini adalah proses dinamis, salah satu dari mereka selalu bereaksi terhadap salah satu yang dominan.Dalam hubungan dengan esotericisasi, exotericisme adalah ‘reaksi’ dan sebaliknya. Apa yang dibicarakan disini bukanlah arah dari proses ini, apakah itu esoteric atau exoteric, tapi lebih kepada prosesnya sendiri.

Pertumbuhan dari kapitalisme memerlukan dan mencapai penghapusan nilai-nilai normatif agama, dan ini adalah proses esoteric, esotericisasi. Tanpa belas kasihan, agama-agama yang berbeda dan pengertian-pengertian mereka yang bertentangan telah dihapus karena agama-agama ini telah ditetapkan lagi dalam proses yang dapat digambarkan sebagai yang ‘bergerak’ kearah pusat yang tidak dapat di beda-bedakan. Ini adalah proses yang kita sebut esotericisasi. Meskipun proses ini dominan, setiap saat masa lalu kelihatan exoteric dan masa depan lebih esoteric. Reformasi kristen adalah esoteric dalam hubungan dengan keadaan sebelumnya, tetapi adalah exoteric dalam hubungan dengan ketuhanan; ketuhanan adalah exoteric dalam hubungan dengan keabadian. Dalam proses ini exotericisme adalah masa lalu dan reaksi terhadap masa depan. Reaksi ini telah dimanfaatkan sebagai konflik yang menutupi pertumbuhan kapitalisme. Cara menetapkan konflik ini, termasuk alasan-alasan konflik dan lapangan pertempuran yang dipilih, menguntungkan kapitalisme, lagi pula hal-hal itu memperkuat kapitalisme. Malah Perang Dunia II dengan menyedihkan dinyatakan oleh para ahli sejarah profesional dalam istilah pribadi-pribadi, dan sedikit atau tanpa usaha yang dikerjakan untuk memperjelas akibat utama dari perang: kelahiran kapitalisme keuangan modern. Berikutnya untuk melepaskan diri dari kapitalisme, perang harus di definisikan ulang. Kita akan meninjau hal ini kemudian. Yang penting adalah untuk menyadari bahwa kapitalisme memerlukan penghapusan semua agama lainnya atau esotericisasi terhadap mereka untuk menyatakan kekuasaan universal yang tidak dapat disangkal.Hanya kapitalisme exotericisme yang diizinkan. Kapitalisme sendiri dapat mengadakan upacaranya, sebab sendirian dia tidak dapat menimbulkan konfflik. Perdamaian kapitalis berarti dominasi sepenuhnya dari kapitalisme dan penghapusan dengan cara pengurangan dari agama lainnya.

Bila esotericisasi diterapkan terhadap Islam berarti secara tidak langsung putus dengan masa lalu, sering dinyatakan sebagai reformasi ‘jinak’. Ini kita fahami sebagai penyimpangan. Reformasi esoteric atau penyimpangan telah diterapkan kepada Shari’ah dan Tasawwuf.

Esotericisasi terhadap Shari’ah secara tidak langsung menyatakan pencarian untuk prinsip-prinsip yang terlihat sebagai simbol yang dipakai untuk merumuskan ulang hukum dalam hubungan dengan skala manusia atau kemanusiaan. Hukum kemanusiaan adalah perumusan esoteric dari hukum Islam. Kemanusiaan dilihat sebagai satu persaudaraan, ‘persaudaraan manusia’.Unsur-unsur perbedaan dalam Shari’ah Islam berangsur angsur dihapus dengan rumusan seperti ‘tidak ada paksaan dalam Deen’ atau ‘persaudaraan kemanusiaan’.Hal ini tidak dapat kita terima, karena hukum Islam tidak dapat direformasi, hanya masyarakat kita yang harus direformasi.Perumusan esoteric mereka mengganti atau mendefinisi ulang Jihad dan persaudaraan Islam.

Esotericisasi dari Tasawwuf menyatakan secara tidak langsung pemisahannya dari Shari’ah, untuk mengatakan, pendefinisian ulangnya sebagai ‘Islam esoteric’, sedangkan Shari’ah didefinisikan ulang sebagai ‘Islam exoteric’. Hal ini tdak masuk akal Islam, sebab ide Tasawwuf tanpa Shari’ah sama tidak berdasar seperti Shari’ah tanpa Tasawwuf. Esotericist menyatakan bahwa Tasawwuf mendukng ‘kesatuan trans cendental dari semua agama’ dalam dasar metafisik kepercayaan kepada Tuhan. Persoalan exterior yang berhubungan dengan kegiatan dan kewajiban dari kepercayaan kepada Tuhan kepentingannya dianggap nomor dua. Bidang kekuasaan absolut adalah metafisikal dan bidang pengikut adalah bersifat ritual

Simbolisme membolehkan esotericist untuk mengiyakan Islam padahal kenyataannya mereka mengingkarinya. Simbolisme membolehkan mereka mengatakan, ‘kami percaya kepada Allah seperti anda”, padahal kenyataannya mereka percaya kepada tuhan lain. Tuhan mereka dapat mempunyai beberapa nama. Ini suatu simbol. Dari beberapa segi anda dapat menemukan gambar yang berbeda. Adalah penting untuk difahami bahwa esotericist tidak menyangkal percaya pada Allah dan mereka akan mengatakan mereka adalah Muslim meskipun mereka menegaskan bahwa semua agama dan jalan spiritual percaya kepada tuhan yang sama. Beberapa freemason, contohnya, mengatakan bahwa mereka adalah Muslim bila mereka tinggal di negara Muslim dan mereka mengatakan bahwa mereka kristen bila mereka berada di negara kristen.Ini karena mereka melihat diri mereka sendiri diatas ‘interpretasi kaku’ dari agama. Freemason menerima semua agama dalam persaudaraan mereka dan mereka semua memuja apa yang mereka sebut ‘Arsitek Agung dari Alam’. Posisi tidak jelas ini lebih tidak jujur dari pada pengingkaran kepada Islam yang terbuka dan bermusuhan.Dengan alasan ini kita kemudian akan menelaah secara lebih detil sejarah dan kepercayaan golongan freemason.

Esotericist juga mengatakan bahwa mereka mendukung Shari’ah tapi pada saat yang sama ingin menyusunnya kembali, atau menguranginya, atau tidak menginginkannya disini atau sekarang. Mereka mengatakan mereka ingin menyelamatkan kemanusiaan, tapi jelas ini hanya dapat dicapai oleh mereka sendiri –grup yang terpilih.Semua penyusunan kembali mereka menuntun mereka kepada filosofi hak asasi manusia, toleransi dan persaudaraan kemanusiaan.’Shari’ah hasil penyusunan kembali yang harus tunduk kepada prinsip-prinsip esoteric ini bukanlah Shari’ah Islam. Ini adalah sesuatu yang baru tapi mereka ingin memakai nama Shari’ah. Lalu mereka menunjuk kepada lembaga dan perlengkapan kafir dan menambahkan nama Shari’ah. ” kami ingin Shari’ah Islam, kami ingin pemerintahan yang dkuasai Shari’ah”. Pada pengamatan apa yang mereka inginkan adalah versi penyusunan kembali mereka yang baru, lalu mereka berbicara tentang hak asasi manusia Islam dan toleransi Islam. Ketika mereka tidak dapat melebarkan Shari’ah lebih jauh, setelah mengingkari madhhab dan fiqh yang telah ada, mereka memohon kepada “jiwa undang-undang’ dan ‘prinsip-prinsip Islam’.Ini adalah teknik esoteric yang disebut simbolisme. Shari’ah digambarkan dengan simbol-simbol atau prinsip-prinsip yang membolehkan tingkat lebih lanjut dari interpretasi introspektif. Akibatnya mereka memperkenalkan penjelasan simbolis apa arinya Jihad dan riba.

Pada akhirnya yang jadi persoalan adalah dibelakang prinsip-prinsip Islam mereka dan hak asasi manusia Islam mereka adalah dorongan penuh mereka untuk mempertahankan sistim perbankan. Tugas mereka adalah untuk ‘mengislamkan’ bank, artinya mempertahankan kapitalisme dan lebih jauh membujuk Muslim untuk menerima kapitalisme. Mereka mnyangkal perbankan tapi merekan mengiakan perbankan Islam. Mereka mengiakan kejahatan kapitalisme tapi mereka siap untuk ‘mengislamkan’ kapitalisme. Menurut mereka bank bukanlah lembaga kapitalis , bank hanyalah sekedar servis. Menurut mereka kapitalisme adalah salah, tapi kapitalisme Islam akan dapat diterima. Kapitalisme Islam mereka adalah kapitalisme dengan nilai-nilai moral Islam, dimana bank Islam telah menggantikan bank bukan Islam. Menurut mereka riba adalah simbol yang, tanpa memperhatikan apa yang dikatakan oleh Shari’ah, berarti bunga. Akibat dari semua ini adalah bahwa kekejaman, intoleran dan praktek tidak manusiawi dari riba, yang artinya kapitalisme, dipertahankan oleh esotericisasi dari agama. Untuk alasan ini adalah sangat penting untuk mengenali mereka dan apa yang mereka katakan, dengan tujuan untuk segera mengenali bermacam muka dari satu kepercayaan umum. Kufr adalah satu sistim.

Ada unsur karakteristik lain dari esotericism: messianisme. Messianisme adalah pembebasan dari kegagalan saat ini dan tanggung jawab. Juru selamat Messianis yang datang untuk menyelesaikan semua masalah kita sekarang dapat mempunyai muka banyak dari Messiah kristen , ke Mahdi, demokrasi dan negara dunia. Dalam praktek dikatakan: ” jangan bertindak sekarang, kita menunggu”. Mahdiisme, dikatakan, menunggu Mahdi seperti dalam tindakan menangguhkan atau memperlambat atau mengecilkan hati keberatan saat ini dalam segala bentuk, adalah bagian dari apa yang kita sebut penyimpangan esoteric. Penggunaan secara politik dari doktrin shi’a dari ‘menunggu Mahdi’ sepanjang sejarah Muslim telah digunakan untuk membenarkan pemberontakan dibawah salah satu dari banyak Mahdi atau malahan lebih jelek lagi memperlambat pembentukan Islam sekarang karena “menunggu Mahdi”.

Older Posts »

Kategori