Sastra Remaja: Antara Ideologi, Produksi, dan Globalisasi[1]
Pengantar
Jumlah remaja Indonesia usia 17—23 tahun yang mencapai 36 juta jiwa menjadi pasar potensial bagi segala macam produk, termasuk di dalamnya sastra. Karena itu, tidak begitu mengherankan bila produsen selalu mencari beribu macam cara untuk menarik minat para remaja ini agar membeli produk mereka. Persaingan pun terjadi. Para produsen berlomba membuat produk yang dekat dan melekat dengan identitas remaja. Tengoklah berbagai macam acara di hampir semua media massa. Lihat, baca, dan dengarkanlah ekspresi seni yang ada saat ini. Hampir semuanya ditujukan untuk mereka yang berusia remaja.
Ketika kita sepakat bahwa remaja menjadi elemen penting dalam setiap aspek produksi berbagai macam produk, termasuk sastra, yang terjadi justru dunia yang ironi. Dunia remaja seakan-akan hidup sendiri, terpisah dari kehidupan manusia dewasa. Semua hal yang berbau remaja dianggap tidak menjadi bagian dari orang dewasa. Bahkan, kita sering mendengar adanya intervensi yang sistematis dari orang dewasa kepada dunia remaja. Yang semakin ironis, remaja pada akhirnya meniru semua hal yang terjadi pada orang dewasa untuk dijadikan sandaran dalam berbagai aktivitas. Remaja, akhirnya, hanya menjadi objek. Habis manis sepah dibuang, begitulah kata peribahasa.
Makalah singkat ini akan mencoba melihat kenyataan ini. Bagaimana potensi-potensi remaja yang begitu besar pada akhirnya hanya menjadi gimmick dari dunia orang dewasa. Sastra remaja yang begitu gegap gempita dalam beberapa tahun terakhir seakan hanya menjadi fenomena tren biasa. Nyaris tidak ada kajian, diskusi yang intens, atau tulisan yang membahas secara tuntas dan ilmiah mengenai gejala ini bagi perkembangan sastra Indonesia secara keseluruhan.
Untuk melihat hal itu, saya membagi tulisan ini menjadi tiga bagian yang diasumsikan bisa memberi gambaran awal sastra remaja. Yang pertama, mengapa remaja saat ini bersastra atau lebih tepatnya menulis. Untuk itu, aspek ideologi dan kenyataan dunia saat ini menjadi begitu penting dalam melihat hal tersebut. Yang kedua, aspek produksi. Aspek ini akan menjabarkan bagaimana sastra remaja diproduksi, mulai dari tingkat penulisan, editorial, sampai dengan distribusi. Yang ketiga, bagaimana perkembangan sastra remaja ke depan, sekadar tren atau justru cikal-bakal sastra yang lebih mumpuni.
Labelisme
Seorang pemerhati remaja dari Inggris, Allisa Quart, menyatakan bahwa dunia remaja di abad ke-21 adalah sebuah dunia yang dibentuk media. Para remaja itu akan dikenal bukan karena kebebasan dan kekuatan hidup mereka, melainkan karena gairah mereka untuk menjerumuskan diri mereka sendiri. Hal ini terjadi karena ulah berbagai produsen dalam menciptakan ruang-ruang pasar bagi para remaja.
Menurut Quart, pemasaran paling ekstrem yang kini dilakukan adalah dengan menjual produk-produk orang dewasa kepada remaja. Produk-produk itu dibuat terlihat muda dan menggembirakan sehingga sangat cocok untuk para remaja. Lihatlah komik-komik orang dewasa yang dijajakan bebas di toko buku dan diborong habis oleh para remaja. Lihat pula bagaimana iklan produk kosmetika dan kecantikan atau makanan suplemen menggunakan remaja sebagai bintang iklan. Bila ini terus terjadi, tentu saja identitas, citra diri, dan ambisi para remaja berubah sesuai iklan. Misalnya, “Kamu harus memiliki tubuh yang seperti ini jika ingin terkenal”. Pada akhirnya, seperti yang disitir Quart, dunia remaja adalah dunia merek. Remaja pun saling menilai berdasarkan merek. Bahkan, Quart juga memberi kesimpulan bahwa apa yang terjadi saat ini hanya ingin memberi citra bahwa para remaja ini adalah anak-anak dari kapitalisme yang bahagia yang mengosumsi begitu banyak barang.[2]
Identitas diri yang berubah akibat pelekatan merek yang sedemikian dahsyat ini, yang diciptakan para kapitalis modern lewat produk-produk mereka, pada akhirnya semakin terlihat dalam kebiasaan para remaja dalam dunia tulis-menulis. Kehadiran sastra remaja di awal tahun 90-an tidak terlepas dari hal ini. Di Barat, pada saat itu tumbuh dan berkembang semacam tren penulisan biografi yang ditulis oleh remaja. Yang lumayan terkenal saat itu adalah Katie.com: My Story. Karya ini menceritakan gadis kecil yang kehilangan arah. Pembaca akan diajak oleh si pengarangnya yang berusia 17 tahun itu untuk menyelami kisah korban kekerasan seksual. Ada juga novel Pure karya Rebbeca Ray yang bertutur tentang seorang gadis berusia 14 tahun yang menyerahkan keperawanannya pada lelaki berusia 31 tahun melalui isyarat seperti: rok mini, lengan kurus, dan pakaian olahraga merek Adidas.
Karya-karya ini memang dikemas sangat baik dengan meniru konsep “novel orang dewasa”. Mereka memaparkan trauma-trauma yang terjadi seperti yang biasa dilakukan oleh orang dewasa di rubrik-rubrik konsultasi psikologi atau cerita-cerita sejenis di majalah wanita dewasa. Karena tumbuh dan berkembang dalam dunia “sastra pengakuan” seperti ini, para remaja ini sadar bahwa rahasia pribadi mereka dapat diperjualbelikan demi kemasyhuran, demi pencitraan diri mereka di dunia luar. Dan akhirnya, merek atau labelisasi menjadi penting dalam dunia industrialisasi seperti saat ini.
Bagaimana dengan sastra remaja di Indonesia?
Saat ini, apa yang diklaim oleh Quart memang terlihat di Indonesia. Banyak penulis muda Indonesia yang mencoba menulis sesuai dengan pengalaman mereka. Sebut saja karya pemenang lomba penulisan teenlit dan chicklit di sebuah penerbitan yang berjudul Ayah 50% yang menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang ayahnya memiliki dua jenis kepribadian dalam dirinya: setengah lelaki dan setengah perempuan.
Perkembangan sastra remaja di Indonesia sendiri sebenarnya bisa dikatakan berjajar dengan apa yang disebut sastra populer. Meski belum tercatat dengan detail dalam periodesasi sejarah sastra, banyak sastra populer bahkan sastra serius ditulis oleh para remaja atau pemuda. Contohnya, Marco Kartodikromo (yang dikenal Mas Marco) sudah membuat karya pada usia 22 tahun. Para penyair juga banyak yang telah mengeluarkan karyanya di usia-usia belia.
Nenden Lilis, dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, membagi periode sastra populer dalam empat masa, yaitu Periode Zaman Kolonial, Periode 1950-1968, Periode 1970-1990-an, dan Periode Era Reformasi. Dalam pembagian itu, dia menyebutkan bahwa cerita-cerita remaja atau bertema remaja mulai tumbuh pada era 1970-an dan terus berlangsung hingga kini, tentu saja dengan kondisi pasang surutnya.[3]
Hal ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di luar. Quart menyebutkan bahwa di Barat sastra dewasa muda, yang diistilahkan sebagai young adult (YA), mulai benar-benar muncul pada tahun 1960-an atau masa-masa setelah Perang Dunia II benar-benar berakhir. Tema-tema cerita pada masa itu adalah percintaan yang mendayu-dayu dan getir. Masalah-masalah dalam novel pada kurun itu adalah perceraian, kehamilan, dan kehidupan kota.
Berdasarkan gambaran di atas, fenomena sastra remaja di Indonesia yang kini disebut teenlit dan chiklit juga tidak terlepas dari aspek pelabelan dan ideologi merek sistem kapitalisme. Mereka menulis di bawah bayang-bayang pencarian identitas dan citra diri. Selain itu, dunia idealisme versi mereka pun menjadi motivasi yang besar dalam menulis. Sebuah dunia yang idealnya memang jauh dari intervensi orang dewasa. Dan pada akhirnya, idealisme itu akan bersaing atau diadu dengan konsekuensi pasar. Di tengah bisingnya daya tarik itulah sastra remaja hadir.
Salah satu contoh adalah teenlit yang berjudul (Un)fat Love: Cinta Gadis Gendut (Penerbit Puspa Swara) yang menyiratkan hal itu. Dalam cerita tersebut dikisahkan seorang cewek bernama Nadine yang kurang menghargai dirinya sendiri. Dia sebenarnya punya tampang lumayan, punya keluarga yang baik, dan punya orang-orang yang menyayanginya. Tapi, badannya yang terlalu gemuk membuat dirinya menjadi tidak terlihat cantik. Dia ingin jadi seperti Kak Selvy, kakak kelasnya yang cantik. Atau seperti Indri, sobatnya yang pintar. Begitulah, keinginan menjadi cantik dan pintar menjadi obsesi para remaja masa kini, yang celakanya malah meniadakan keberadaan dirinya sendiri.
Contoh lain dalam karya Doiku Superstar (Penerbit Puspa Swara) yang menceritakan bagaimana seorang remaja putri Indonesia tergila-gila dengan artis atau penyanyi dari Jepang. Zikha atau Zee, cewek kelas 3 SMA, ngefans abis sama penyanyi Jepang yang bernama Gaka. Impiannya untuk bertemu dengan Gaka akhirnya terkabul setelah penyanyi itu memberinya tiket ke Jepang. Selama di Jepang, Zee bertemu dengan seluruh personel kelompok musik itu. Dia bahkan tinggal di tempat yang sama dengan mereka. Penetrasi budaya luar yang memang hadir di tengah arus globalisasi mau tak mau menjadi isu keseharian dari para remaja. Mereka seakan belum ”gaul” bila tidak kenal atau ngefans dengan ikon-ikon tertentu, seperti musik, film, atau pakaian dari budaya lain yang digemari, yang dalam kasus ini adalah Jepang. Hasilnya bisa kita lihat sendiri. Budaya Jepang atau Korea begitu mendominasi pencitraan dalam ruang-ruang di rumah kita. Dari mulai acara televisi sampai komik.
Antara Pasar dan Idealisme
Memang, fenomena chicklit dan teenlit itu disebut-sebut menawarkan kesegaran baru dalam kaitannya dengan varian keberjamakan tema dan standarisasi buku-buku cerita. Fenomena ini juga terus menyambung dalam kaitannya dengan jumlah produksi buku dalam sejarah penerbitan di Indonesia. Bisa dibayangkan, para produsen buku sejenis rata-rata mengeluarkan sampai 10 judul per bulan dengan oplag cetakan mencapai 5.000 per judul. Karena itu, tidak mengherankan jika di antara tahun 2005-2007, toko-toko buku besar seperti Gramedia dibanjiri buku-buku seperti ini.
Dari segi estetika kesastraan, fenomena chicklit dan teenlit ini memang mudah diterima masyarakat. Itu karena gaya tuturnya yang ringan, bercerita tentang hal-hal yang sepele, dan sangat menghibur. Karena biasanya ditulis dengan gaya buku harian, pembaca biasanya ikut terhanyut secara emosi sehingga enggan berpindah ke buku lain jika belum tamat.
Dari sisi produksi, mencetak buku semacam teenlit dan chiklit memang lebih menguntungkan dibandingkan buku lain. Dengan ongkos produksi yang minimal, keuntungan yang diperoleh sangat maksimal. Ini terjadi karena genre tersebut sedang tren sehingga para remaja akan membeli apa saja buku yang ditawarkan asal temanya cocok dengan mereka.
Bagaimana teenlit atau chiklit ini diproses menjadi sebuah buku?
Seperti halnya jenis buku yang lain, teenlit atau chiklit sebenarnya juga mengalami proses yang panjang hingga menjadi sebuah buku. Ada rumusan umum yang biasa dipakai oleh penerbit atau produsen ketika akan mengeluarkan produk. Biasanya disebut STP4P (segmentation, targeting, positioning, price, product, place, and promotion). Berdasarkan hal inilah karya sastra remaja sebagai sebuah tema besar biasanya diputuskan untuk terbit.
Seperti halnya “kritikus sastra”, awak redaksi biasanya menyeleksinya berdasarkan standar sebuah karya yang baik. Misalnya, apakah tema ceritanya benar-benar dunia remaja, misalnya cinta, persahabatan, dll.? Apakah ceritanya mengalir dan logis? Bagaimana konfliknya? Bagaimana ending-nya? Kalau bangun alurnya sudah memenuhi standar, karya tersebut layak diproses untuk diedit. Tentu saja semua kriteria standar itu diukur berdasarkan ukuran pasar. Karena itu, hubungan antara pasar dan idealisme (menampilkan kualitas yang baik) selalu menjadi media tarik-ulur yang sedemikian sengit. Pasar yang butuh karya yang sedemikian cepat dimaknai penerbit dengan percepatan produksi yang luar biasa. Bahkan, kalau bisa, setiap editor mengedit 3 sampai 4 teenlit atau chiklit dalam sebulan. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana kualitas karya itu, bukan?
Naskah bisa hadir sesuai pesanan atau kiriman. Kalau kiriman, redaksi akan membacanya dan memberi catatan. Bila layak, akan terbit. Bila tidak layak, dipulangkan. Naskah pesanan mempunyai kriteria berbeda. Biasanya berkaitan dengan cerita yang sedang tren (misalnya cerita lucu atau horor). Redaksi akan memberi panduan kepada penulis mengenai cerita yang dibuat, termasuk detailnya. Setelah itu, pengarang yang akan menyelesaikan semuanya.
Lalu, bagaimana idealisme akhirnya berkompromi? Ada penerbit yang akhirnya mengompromikannya dari sudut yang berbeda. Tidak lagi di kualitas karya, semacam pilihan kata, alur yang menggigit, atau latar yang detail, tetapi pada hal-hal lain yang lebih mendidik. Misalnya, sebisa mungkin tidak ada tokoh yang merokok, meminum-minuman keras, atau menggunakan narkoba. Dalam lakuan juga diusahakan tokoh-tokohnya tidak menginap satu kamar, kontak fisik, serta mengucapkan kata kasar, atau SARA.
Sastra Remaja ke Depan
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana sastra remaja ke depan?
Masa remaja adalah masa transisi dalam mencari sebuah karakter atau indentitas bagi dirinya. Karena itu, remaja memiliki kesadaran dalam pola pergaulannya. Kesadaran inilah yang membentuk karakter atau identitas mereka. Salah satu media pembentukan identitas itu adalah tulisan-tulisan mereka dalam menyikapi hidup, yang semuanya tecermin dalam sastra dengan gaya mereka (baik teenlit maupun chicklit). Dunia mereka yang dipenuhi berbagai komoditas memberikan fenomena dalam kebudayaan populer yang didukung dengan media massa sebagai industri kebudayaan untuk publik massa yang baru, yang ditandai dengan menjamurnya film, buku, majalah, dan sebagainya.
Seperti diungkit sebelumnya, saat ini remaja hidup dalam suatu masyarakat komoditas yang di dalamnya berlangsung produksi barang-barang atau benda-benda yang bukan diproduksi untuk sekadar pemuasan keinginan dan kebutuhan manusia, tapi justru demi profit atau keuntungan. Kondisi ini jelas memengaruhi tidak hanya bentuk dari suatu produk, tapi juga hubungan antarmanusia. Dari sinilah kemudian citra menaklukkan kenyataan yang ada.
Dari kondisi inilah sastra remaja hadir. Dunia pencitraan yang luar biasa ini dimaknai dengan beragam cerita dari berbagai komposisi. Meski secara kualitas masih sering diragukan, sastra remaja tetap akan hadir dan dibutuhkan sebagai bagian dari interaksi antara remaja dan dunianya. Bahkan, karena fenomena ini kebanyakan ditanggapi oleh remaja putri, hampir 90% penulis teenlit dan chicklit adalah perempuan (survei di salah satu penerbit), ada yang mengatakan genre ini dengan sebutan “feminisme lunak”.
Di tengah hiruk-pikuk dunia sastra remaja, seperti disitir banyak pengamat, masa depan sastra kita justru tampak semakin suram sehingga banyak yang prihatin dengan nasib sastra Indonesia ke depan. Banyak penyebabnya, seperti minat baca yang rendah, tekanan dari berbagai lembaga masyarakat, perhatian dunia terhadap teknologi, sistem pendidikan yang tidak mengacuhkan ilmu kemanusiaan, dan sebagainya. Meski demikian, kita tetap menyaksikan penerbitan karya sastra baru di media massa cetak maupun dalam bentuk buku. Pun ada berbagai acara sastra seperti temu sastrawan, sarasehan, pembacaan puisi, peluncuran buku sastra, penerbitan majalah, atau membuat polemik. Bahkan, jurusan sastra di berbagai universitas masih dimasuki mahasiswa baru.
Ya, karya sasta bisa lahir di mana pun dalam kondisi sosial-politik macam apa pun. Jadi, sastra memang tetap ditulis dan dibaca, meskipun saat ini kita semakin terbawa arus konsumerisme, kapitalisme, atau neoliberalisme. Bahkan, teknologi modern justru juga membantu tumbuhnya minat baca, seperti yang antara lain tampak pada pengaruh timbal balik antara novel dan film yang ceritanya didasarkan pada karya sastra.
Menurut Sapardi Djoko Damono, sastra dibutuhkan karena sifat rekaannya. Hidup harus seimbang antara dunia nyata dan rekaan. Karena itu, kita pun menonton telenovela dan membaca cerita bersambung atau cerita pendek yang dimuat di berbagai media massa. Di dunia rekaan itulah kita mendapatkan keleluasaan yang memungkinkan kita melewati batas-batas itu. Dengan demikian, sastra merupakan cermin dari diri kita. Karena cermin itu meniru apa yang dicerminkannya, sastra pada dasarnya dianggap sebagai mimesis atau tiruan untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada yang ditiru. Jadi, bisa dikatakan bahwa sastra merupakan tanggapan evaluatif terhadap kehidupan, yang memantulkan kehidupan setelah menilai dan memperbaikinya.
Memang, dalam zaman kini, sastra telah menjadi sebuah produk barang dagangan. Penerbit adalah perusahaan yang dalam kegiatannya harus selalu memperhitungkan untung-rugi. Dalam dunia seperti ini ada dua sistem yang berkaitan dengan kelahiran karya, yakni kepengarangan dan penerbitan. Sastrawan di sini yang umumnya bekerja sendirian, harus bekerja secepat-cepatnya tanpa bantuan orang lain untuk memeriksa karyanya. Sastrawan pun memiliki kerja rangkap. Tidak hanya mengarang, tapi juga riset dan mengedit. Artinya, si pengarang tidak bisa mempergunakan seluruh waktunya hanya untuk mengarang. Karena kebutuhan yang cepat dengan dibatasi waktu, diasumsikan penulisan sebuah jarya dilakukan dengan sangat tergesa-gesa.
Padahal, sastra tidak bisa dilahirkan dengan tergesa-gesa. Pengarang pun tidak bisa sepenuhnya bekerja sendirian. Tujuan penerbitan yang mementingkan faktor laba ini segera tampak bertentangan dengan hakikat sastra yang memang tidak bisa dipaksa tergesa-gesa dan ceroboh. Jadi, yang diperlukan saat ini adalah suatu sistem penerbitan yang bisa mempertemukan keduanya: pengarang dan penerbitan harus bisa bekerja sama dengan baik. Dalam tarik-menarik itulah terletak masa depan sastra kita.[4]
Ramalan Damono itu pulalah yang juga akan menaungi dunia sastra remaja kita ke depan. Sebagai sebuah masa yang terus hadir, sastra remaja akan terus tumbuh dan berkembang. Meski keterlibatan orang dewasa banyak hadir dalam proses kreatifnya, sastra remaja tetap memiliki kekhasan tersendiri. Bila para remaja itu mampu meningkatkan performanya dan mengetahui sistem penerbitan plus memiliki kemampuan organisasi yang profesional dalam berkarya, sastra Indonesia ke depan bisa berharap kepada mereka.
Semoga….
***
[1] Disampaikan pada Kuliah Umum Aspek Produksi pada Sastra Remaja, 9 Juni 2009, di Universitas Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta.
[2] Quart, Alissa. 2008. Belanja Sampai Mati. Yogyakarta: Resist Book.
[3] “Adakah (Perlukah) Periodisasi Sastra Populer” dalam Pikiran Rakyat, 12 April 2008 .
[4] Ke Mana Perkembangan Sastra Kita? Sapardi Djoko Damono dalam http://pusatbahasa.diknas.go.id.

Komentar Terakhir